
. Kondisi internal Golkar membuat saling ketergantungan satu sama lain. Bila Golkar mau masuk pemerintahan, maka Golkar harus masang cawapres. Di saat yang sama, bila mau menang satu putaran, Jokowi atau Prabowo harus menggandeng tokoh Golkar.
"Dengan alasan suara 14 persen, jika Golkar solid maka dapat memberikan dukungan yang luar biasa besar kepada capres yang mengusungnya," kata Ketua Forum Indonesia Maju (Forima), Dicky Andika, saat diskusi bertema "Kemana Partai Golkar Akan Berlabuh?" di Jakarta (Jumat, (16/5).
Dicky pun menyarankan Ketua Umum Golkar sekaligus capres Aburizal Bakrie menjadi King Maker seperti yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri. Dan bila ini dilakukan maka ARB akan dipandang sebagai negarawan sejati.
Menurut Dicky, dalam Rapimnas Partai Golkar yang akan dilaksanakan pada 17-18 Mei mendatang, Golkar sebaiknya mengajukan cawapres dari politisi muda Golkar, yakni Priyo Budi Santoso kepada mitra koalisi untuk dijadikan pasangan dalam pertarungan pilpres mendatang. Pengajuan nama Priyo sebagai cawapres didasarkan sebagai tokoh muda yang memiliki banyak pengalaman sebagai aktivis dan politisi.
Selain tegas dan cepat dalam mengambil keputusan, dia menilai Priyo juga memiliki ketajaman visi tentang birokrasi dan pemerintahan serta pertahanan, juga berpengalaman sebagai Wakil Ketua DPR RI. Sementara dari sisi komunikasi politik, sosok Ketua Umum MKGR itu akan mampu membangun komunikasi dengan setiap elite partai dari semua kalangan dan relatif dapat diterima semua pihak.
"Jika Golkar mampu memainkan strategi ini, maka peluang bagi Golkar untuk tetap di pemerintahan akan sangat besar," demikian Dicky.
[ysa]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: