Secara Faktual Sulit bagi Luhut Panjaitan Jadi Cawapres Jokowi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Sabtu, 19 April 2014, 16:00 WIB
Secara Faktual Sulit bagi Luhut Panjaitan Jadi Cawapres Jokowi
luhut panjaitan/net
rmol news logo . Meski namanya disebut-sebut masuk dalam daftar nama cawapres bagi Jokowi, namun secara faktual sulit bagi Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan untuk duduk di RI 2 mendampingi Jokowi.

Disebutkan, di internal PDI Perjuangan sendiri banyak yang menolak mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid itu. Penolakan ini ada yang berifat personal maupun karena ada alasan ideologis.

Namun yang pasti, di luar dua latarbelakang penolakan itu, banyak yang percaya di internal PDI Perjuangan bahwa Luhut akan merepotkan Jokowi. Bahkan bukan tidak mungkin Luhut akan menelikung Jokowi. Dalam hal politik, jam terbang Luhut di atas Jokowi, dan ini memudahkannya untuk membuat Jokowi tak berkutik.

Lebih-lebih Luhut adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Golkar. Bila pun ia masuk dalam lingkar dan jangkar kekuasaan, akan banyak gerbong yang dibawanya. Dan hal yang tak kalah penting, gerbong yang akan dibawa Luhut adalah pasukan Golkar yang selama ini secara praksis ideologis berbeda dengan PDI Perjuangan.

Karena itu, semakin dikhawatirkan, bukan saja Luhut yang bermanuner, melainkan juga pasukannya. Manuver ini bisa dalam bentuk menggunting dalam lipatan, atau memotong di tengah jalan. Dan secara teknis, bila ada banyak politisi Golkar yang masuk kabinet, diakui atau tidak, akan menutupi kinerja menteri dari unsur lain, dan terutama dari PDI Perjuangan.

Bahkan ada cerita lain. Luhut dinilai dan dicurigai menjadi sosok yang menggembosi PDI Perjuangan pada pemilihan legislatif 9 April lalu. Cara yang digunakan luhut, demikian kecurigaan itu berkembang, adalah dengan mengampanyekan "Jokowi Yes, PDIP No."

Luhut sendiri menyatakan dukungan pada Pencapresan Jokowi, beberapa jam setelah Megawati mengeluarkan surat perintah pencapresan Jokowi pada 14 Maret lalu. Manuver Luhut terlihat gesit dan cepat.

Namun kembali pada kecurigaan di atas, tujuan Luhut dengan menggembosi PDI Perjuangan adalah agar PDI Perjuangan tidak bisa mengusung capres sendiri. Dengan suara PDI Perjuangan yang minim, Luhut, melalui Golkarnya, berharap dilirik Jokowi. Namun sayang kecurigaan itu kini kain menggumpal dan menjadi salah satu alasan ketidaksukaan pada Ruhut. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA