"Ujungnya siapa dapat apa," kata pengamat politik dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 19/4).
Bila pun di antara partai Islam ini dinilai tidak ada yang layak untuk menjadi capres, lanjut Asep, maka bangunan koalisi Islam ini hanya untuk memperkuat daya tawar kepada partai lain, yang bahkan partai nasionalis.
Asep menilai gagasan dan rencana ini pun sulit terwujud. Sebab akan ada dinamika di internal masing-masing partai yang hingga kini belum diketahui kepentingannya. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) misalnya, sebagaimana dikatakan Ketua Umum Suryadharma Ali, sudah berkoalisi dengan Gerindra untuk mendukung Prabowo.
Sikap SDA ini pun memicu konflik dari dalam, dan tidak mungkin PPP benar-benar terbelah.
"Koalisi itu harus bersifat alami, ketika dirasakan ada
chemistry yang pas. Kalau gaya manuver kayak Amien Rais, atau koalisi yang dipaksakan, susah," demikian Asep.
[ysa]
BERITA TERKAIT: