Pengguna Transportasi Massal Jadi Deg-degan

Bus Transjakarta Terbakar Lagi

Kamis, 06 Maret 2014, 09:33 WIB
Pengguna Transportasi Massal Jadi Deg-degan
ilustrasi
rmol news logo Kembali terbakarnya bus Transjakarta pada akhir pekan lalu, membuat masyarakat khawatir. Padahal, transportasi massal ini mulai menjadi andalan masyarakat ibukota dalam menghindari kemacetan. Pengelola diminta lebih mengoptimalkan perawatan bus demi keselamatan penumpang.

Bagi yang sering menggunakan bus Transjakarta, peristiwa ru­saknya bus mungkin bukan hal baru lagi. Bus sering mogok. Bia­sanya, bus mogok akibat ke­ru­sakan mesin. Penumpang yang ada di dalam bus itu pun ter­paksa dievakuasi menggunakan bus lainnya. 

Yang lebih parah lagi, tak cuma mogok, bus Transjakarta juga disertai percikan api, lalu terba­kar. Kejadian seperti itu sangat mengkhawatirkan para pengguna bus. Sebagai transportasi umum, keselamatan penumpang belum 100 persen diperhatikan.

Seperti diketahui, Sabtu (1/3) pekan lalu sebuah bus Transja­karta mogok hingga terbakar, di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat dan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.

Sehari beri­kut­nya, Minggu (2/3), bus juga ter­bakar di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu, tiga bus lainnya juga mogok di ka­wasan Grogol, Senayan dan Sunter. Akibat pe­ristiwa itu, lalu lintas di sekitar pun terganggu.

Adalah wajar jika para peng­gu­na bus Transjakarta kha­watir ketika dihadapkan pada kondisi bus yang bisa memba­hayakan ke­selamatan seperti ini.  Menurut Wawan, seorang peng­guna setia bus Trans, kondisi bus yang baik saat melayani penumpang meru­pa­kan hal yang penting untuk keselamatan pengguna trans­portasi massal itu.

“Ta­kut juga membaca berita ada lagi bus Transjakarta yang ter­bakar, karena saya hampir tiap hari naik busway. Pengawasan terha­dap kondisi bus harus di­ting­katkan dan jangan sampai timbul korban jiwa," ujarnya.

Penumpang lainnya, Resty, me­ngaku kecewa dengan kondisi armada bus Transja­karta yang se­ring ia gunakan. Dia me­ngaku ti­dak heran dengan ba­nyak­nya bus yang mogok hing­ga terbakar.

Pa­salnya, saat di dalam bus pun ia banyak mene­mukan sejumlah ke­rusakan. Se­but saja kebocoran pada pen­dingin udara, mesin yang ber­bunyi bising dan me­nge­luarkan hawa panas hingga pintu yang rusak. 

“Yah takut juga, kalau pas se­dang apes, saya lagi di dalam bus Transjakarta yang kondisinya jelek lalu mogok atau terbakar seperti itu, bagaimana? Bisa-bisa banyak penumpang enggan meng­gunakan bus dan beralih kembali naik kendaraan priba­di,” katanya.

Pengamat transportasi dari Uni­versitas Indonesia (UI) Ellen Tangkudung mengatakan, pihak operator berkewajiban me­rawat dan memastikan ken­da­­ra­annya aman dan layak. Ba­nyaknya bus yang terbakar bisa jadi diakibat­kan oleh kelalaian pihak opera­tor dalam melaku­kan pera­watan.

“Sistem pembayaran operator yang berdasarkan jarak tempuh bisa membuat mereka memak­sakan pengoperasian bus yang sebenarnya tidak layak jalan. Ka­rena itu, perawatan dan penge­cekan kelayakan bus yang me­miliki jalur khusus itu harus di­perketat,” ujarnya. 

Menurutnya, pengecekan kon­disi bus Transjakarta harus dila­kukan setiap hari. Setiap bus akan keluar pul. Sebab, sebagai trans­portasi umum yang digu­nakan terus-menerus, bus Trans­jakarta tentu akan cepat rusak.

Pengawasan tersebut, kata Ellen, tak hanya dilakukan ope­rator, tapi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta juga harus memantau langsung kinerja ope­rator dalam merawat trans­por­tasi massal ini.

"Perawatan ini sangat penting karena terkait de­ngan keselamatan penum­pang," ingatnya.

Menurut Ellen, seharusnya BLU Transjakarta mendorong se­tiap operator memiliki Standard Operating Procedure Prosedur (SOP) ter­kait pemeliharaan bus. Selain itu, pihak BLU Transja­karta perlu melakukan sidak ter­hadap kela­yakan bus Trans­ja­karta.
 
Jika operator sudah mela­kukan pengawasan secara ketat, tapi ma­sih terjadi kebakaran bus, lanjut Ellen, BLU Transjakarta ha­rus melakukan investigasi. Sebab, di­khawatirkan ada se­suatu yang salah dengan sistem yang ada.

"Jangan-jangan ada alat yang harusnya sudah diganti, tapi ter­nyata belum," tandasnya. 

Jokowi: Laporannya Biasa Ditutup-tutupi

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku tidak mendapatkan laporan terkait ba­nyaknya bus Transjakarta yang terbakar. Dia menduga Badan La­yanan Umum (BLU) Transja­kar­ta sering menutup-nutupi hal itu.

   "Saya tidak mendapat lapo­ran, harusnya dapat, tapi saya ti­dak dapat. Yang seperti begitu kan memang biasanya ditutup-tu­tupi," ujarnya.

Jokowi menduga, permasa­la­han tersebut muncul karena pe­ngelolaan bus yang masih berada di Dinas Perhubungan DKI Ja­karta. Ia yakin, jika semua bus Trans­jakarta sudah dalam wewe­nang PT Transjakarta, perma­sa­lahan itu tidak akan terjadi lagi.
"Sabar, PT Transjakarta kan ma­sih dalam proses," katanya. 

Jokowi sebelumnya juga me­nya­takan akan membuat Stan­dar Pelayanan Minimum (SPM) un­tuk Transjakarta. Menurutnya, SPM sangat perlu untuk mengu­kur seperti progres pelayanan transportasi massal ini.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Ja­karta Muhammad Akbar me­nyatakan, SPM Transjakarta se­dang dirancang drafnya. Nan­tinya akan dijadikan dalam ben­tuk Per­aturan Gubernur (Pergub).
 
Menurutnya, selama ini peng­operasian Transjakarta tetap di­awasi oleh Dishub, sebagai lem­baga yang membawahi BLU Transjakarta. Pengawasan itu meliputi kualitas pelayanan. Se­tiap bus mulai keluar dari pul me­nuju ke jalan dan kembali ke pul kondisinya selalu dicek. Jika me­ngalami kerusakan armada itu diganti dengan armada cadangan.

Begitu juga dengan kondisi pra­mudi akan selalu diperiksa kesehatannya. Pengujian keseha­tan ini untuk memastikan kesela­matan ratusan penumpang.

“Salah-salah, nyawa penum­pang taruhannya,” kata bekas Kepala BLU Transjakarta ini.

Kepala Humas BLU Transja­karta Sri Ulina Pinem menjelas­kan, perawatan armada bus Trans­jakarta diserahkan kepada masing-masing perusahaan yang diperca­ya menja­di operator. Sementara BLU Trans­jakarta sebagai pihak penge­lola akan terus melakukan penga­wasan kepada mereka.
 
“Setiap harinya bahkan kita m­elakukan sidak di jalur-jalur ter­tentu. Jika ditemukan bus yang kondisinya tidak layak jalan, akan kita pulangkan. Kalau masyara­kat menemukan kondisi bus yang tidak semestinya, silakan adukan ke no­mor layanan BLU Transja­karta yang ada di setiap bus,” katanya.

Sri Ulina mengatakan, setiap aduan maupun keluhan terkait kon­disi bus Transjakarta akan dite­ruskan kepada operator yang ber­sangkutan. Pihaknya akan me­lakukan pengecekan kepada ope­rator yang bersangkutan. Jika be­nar, akan dilakukan teguran.
 
“Ka­­lau sudah ditegur namun kon­di­sinya masih seperti itu saja, akan di­­berikan sanksi denda,” tandasnya.

Sejak dioperasikannya pada 2004, bus Transjakarta be­lum mampu menjadi moda tran­spor­tasi umum andalan masya­rakat ibukota. Semakin lama, kondisi transportasi massal ini bukan se­makin membaik, tapi justru seba­liknya. Kua­litas kendaraan serta pelayanan masih menjadi perma­salahan yang banyak dikeluhkan para penggunanya.   ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA