Kualitasnya Meragukan, Ahok Cs Kapok Beli Bus Wisata Dari China

Lisensinya Australia, Tapi Bodi & Mesin Buatan Wan Chai

Minggu, 23 Februari 2014, 09:03 WIB
Kualitasnya Meragukan, Ahok Cs  Kapok Beli Bus Wisata Dari China
ilustrasi
rmol news logo Bus tingkat pariwisata yang didatangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta urung beroperasi. Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menduga, bus-bus yang didatangkan dari China tersebut juga bermasalah, seperti bus karatan yang terjadi pada bus baru TransJakarta.

Dugaan tersebut muncul, lantaran bus tingkat yang seharusnya sudah mulai beroperasi awal Februari ini dikabarkan molor. Sehingga, pengoperasian bus wisata tersebut dilaksanakan pada Maret mendatang.

“Bus pariwisata juga bermasalah. Kita maunya bus-bus itu kan memiliki standar internasional. Lima bus tingkat yang sudah didatangkan dari China itu sebetulnya memiliki lisensi internasional dari Australia. Adapun badan dan mesin bus tersebut bermerek Wai Chai dan dibuat di China,” kata Ahok.

Bekas Bupati Belitung Timur ini juga mengaku heran, mengapa bus-bus wisata itu harus diuji coba terlebih dahulu di Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Seharusnya, kata Ahok, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI mencontoh Pemerintah Kota Solo yang memiliki bus tingkat dari pabrikan Eropa. Bus itu bisa langsung digunakan tanpa harus diuji coba terlebih dulu.

“Itu namanya konyol beli mobil kayak begitu. Kenapa mesti beli mesin baru dan diuji coba dulu di Dirjen Perhubungan Darat. Mana ada orang bodoh kayak begitu. Kalau beli mobil kan maunya sekali langsung pakai,” ketusnya.

Tak ingin lagi kecolongan pada kasus bus karatan dan rusak TransJakarta, Ahok mengatakan, ke depan pihaknya akan membeli seluruh barang dan jasa melalui e-catalogue dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah LKPP.

“Nanti Pak Gubernur Jakarta Joko Widodo, Basuki, serta Badan Pengelolaan Keuangan Daerah BPKD akan mengawasi pengadaan barang melalui e-budgeting. Kita berharap Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan BPKP tidak lagi menemukan anggaran siluman,” ujarnya.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman meyakinkan, bus tingkat wisata merek Wai Chai yang berasal dari China tidak akan seperti bus TransJakarta yang karatan.

 â€œLebih baik kita tunggu beroperasinya nanti saja bagaimana, mogok-mogok dan bermasalah apa nggak. Pak Wagub jangan dulu menyamakan bus ini dengan bus umum biasa yang suka mogok,” protesnya.

 Arie pun memaklumi  kekhawatiran Wakil Gubernur karena peristiwa berkaratnya komponen TransJakarta. Itu sebabnya Basuki menginstruksikan Dinas Pariwisata membeli bus dari Eropa, seperti Mercedes Benz, Volvo, atau Scania. Namun, bus tingkat wisata bermerek Wai Chai itu sudah telanjur dibeli.

Untuk menjawab keraguan tersebut Arie mengatakan, minggu ini bus tingkat wisata atau double decker diuji coba hingga Minggu (23/2). Selanjutnya pada Senin (24/2), lima bus wisata baru berkeliling Jakarta dan dioperasikan untuk umum.

“Uji coba dilaksanakan untuk membiasakan para petugas melayani penumpang di dalam bus. Setiap bus akan ada empat petugas yang melayani penumpang, mulai dari sopir, petugas on board, polisi pariwisata, dan tour guide,” ucapnya.

Tahun ini lanjut Arie, Disparbud DKI juga akan mengusulkan penambahan bus tingkat wisata dengan merek dan spesifikasi yang diinginkan Basuki. Usulan itu akan dimasukkan ke dalam e-katalog oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah LKPP. Untuk biaya pemeliharaan, DKI mengalokasikan anggaran Rp 4,5 miliar untuk lima unit bus wisata.

“Pemeliharaan bekerja sama dengan operator bus yang sudah biasa menangani pariwisata, seperti Blue Bird atau Panorama. Timnya jelas berbeda dengan bus lainnya,” jelasnya.

Jokowi: Nggak Ada Masalah

Urung beroperasinya bus tingkat wisata (double decker), dikatakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dikarenakan belum keluarnya nomor polisi dan sopir yang akan mengoperasikannya. Bekas Walikota Solo ini percaya diri (pede), bus tingkat ini mampu menjaring wisatawan untuk berkeliling kota Jakarta.

“Kemarin kan sopirnya pinjam. Nanti semuanya akan disiapkan. Kalau sudah siap, pokoknya target Februari sudah harus jalan, nggak usah nunggu lama-lama,” ucapnya.

Ia pun menepis adanya masalah pada mesin bus tersebut. Bus-bus yang memiliki kapasitas 60 tempat duduk ini, kata Jokowi, telah menjalani proses pengujian. “Siapa bilang ada masalah? Nggak ada, barang-barang masuk semua harus lewat pengujian, jangan sampai kecolongan,” harapnya.

Senada dengan Jokowi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman menuturkan, demi memikat jumlah turis, pengemudi bus tingkat pun dicari yang perempuan. Sifat wanita yang lembut dan keibuan menjadi jaminan bus itu tidak akan ugal-ugalan. Kecepatan bus tingkat wisata juga rata-rata hanya 10 hingga 20 kilometer per jam.

“Kalau sense perempuan pasti lebih hati-hati dan membawa kendaraannya lebih baik. Jadi tidak ada yang akan ugal-ugalan di jalan. Pak Gubernur pun juga sudah setuju,” kata Arie.

Ia menjelaskan, ada sekitar 12 pengemudi yang direkrut secara terbuka. Mereka mendapatkan gaji 3,5 kali upah minimum provinsi (UMP) DKI sebesar Rp 2,4 juta. Jadi, gaji pokok mereka mencapai Rp 7 juta. “Satu persyaratan utama yang harus dimiliki para petugas adalah mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik. Sebab, turis mancanegara adalah sasaran utama bus tingkat wisata ini,” ujarnya.

 Bus-bus itu akan beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Untuk memulai perjalanan, semua bus tingkat wisata akan parkir di Silang Barat Daya Monas. Pada pukul 09.00 WIB, kelima bus tingkat wisata mengelilingi Jakarta. Waktu tempuh tiap bus berjarak 30 menit.

Bus yang didatangkan dari China ini akan menempuh dua rute. Rute pertama melewati Bundaran HI-Medan Merdeka Barat-Harmoni-Juanda-Gedung Kesenian Jakarta-Gereja Kathedral-Masjid Istiqlal-Juanda-Medan Merdeka Utara-Istana Negara-Balaikota-MH Thamrin-Bundaran HI.

Adapun rute kedua mencakup Bundaran HI-Sudirman-Semanggi-Gatot Subroto-Hotel Sultan-JCC-TVRI-Hotel Mulia-Senayan (Plaza Senayan dan Senayan City)-Patung Pemuda-Sudirman-Semanggi-Bundaran HI.

Bus ini pun tidak memiliki halte khusus untuk berhenti dan beroperasi. Di beberapa titik wisata, bus-bus tersebut akan berhenti selama satu menit untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Bus tersebut memiliki dimensi panjang 13,5 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi 4,2 meter. Bus ini memiliki kapasitas 60 tempat duduk dan dua di antaranya khusus untuk penyandang disabilitas.

Lantai bus dan pintunya sengaja dibuat pendek dan berada di sebelah kiri agar ramah untuk penyandang disabilitas dan orangtua. Spesifikasi lain yang membuat bus ini ramah penyandang disabilitas adalah melintas di jalur lambat, bukan jalur transjakarta. Bus juga dilengkapi pendingin udara, pengeras suara, CCTV, lengkap dengan petugas pemandu wisata. Di tiap bus, akan ada sebanyak tiga awak, yakni pengemudi, pramuwisata, dan petugas keamanan.  ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA