"Pencapaian ini merupakan prestasi membanggakan bagi Indonesia, karena puncak tertinggi Ama Dablam terkenal sangat sulit didaki. Ama Dablam secara teknis lebih sulit dari pendakian Everest, karena memiliki tingkat kesulitan Grade E5," ujar Fedi Fianto, seorang praktisi media digital yang tergabung dalam tim Gapai Tinggi Indonesia dalam rilis yang diterima redaksi sesaat lalu (Sabtu, 30/11).
Kata dia, bagian tersulit dalam pendakian Ama Dablam ini dimulai dari Camp 1 hingga Camp 3 yaitu Yellow Tower, Grey Tower, Mushroom Ridge, yang melewati gigiran jurang. Sementara di bagian akhir menuju puncak adalah rute dinding es dengan tingkat kemiringan 40 derajat, sehingga harus menggunakan fix rope.
"Butuh kemampuan teknis rock climbing dan ice climbing yang handal di sini. Selain itu, tipe gunung ini sangat rentan terhadap cuaca buruk sehingga bisa tiba-tiba diterpa angin kencang," lanjutnya,
Lebih lanjut, Fedi bercerita mengenai pendakiannya itu. Ia mengatakan bahwa tepat pukul 08.00 dirinya sudah berhasil mencapai Camp 3. Saat itu angin dingin sangat kencang menerpa tubuhnya. Suhu saat itu bahkan mencapai -35 derajat celsius. Namun begitu ia tetap meneruskan mencapai puncak dan akhirnya berhasil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih.
“Beberapa pendaki memutuskan turun membatalkan upaya summit. Saya sempat ragu, tapi dengan niat kuat dan melihat pendaki terdepan tetap maju, saya terus melanjutkan pendakian,†demikian kata Fedi yang saat ini masih berada di Tengboche dalam perjalanan kembali ke Kathmandu.
Fedi dan Tim Gapai Tinggi Indonesia yang terdiri dari lima orang pendaki kalangan profesional di Jakarta dijadualkan tiba kembali ke tanah air tanggal 6 Desember 2013.
[ian]
BERITA TERKAIT: