RISET GUNUNG PADANG

TTRM: Mengapa Tidak Memberitakan Penyerangan yang Dilakukan terhadap Peneliti

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Kamis, 12 September 2013, 08:47 WIB
TTRM: Mengapa Tidak Memberitakan Penyerangan yang Dilakukan terhadap Peneliti
malcolm x/net
rmol news logo Tokoh kulit hitam Malcolm X dari Amerika Serikat yang hidup antara 1925 dan 1965 pada suatu kali pernah mengatakan bila tidak hati-hati, media bisa membuat kita membenci orang yang ditindas dan di saat bersamaan mencintai orang yang menindas.

Hal ini yang terjadi dalam kasus pemukulan dan pengeroyokan yang dilakukan sekelompok orang terhadap peneliti di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, pekan lalu (Kamis, 5/9).

Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang memprakarsai penelitian itu menyayangkan pemberitaan sebuah media massa nasional yang selama ini dianggap prominent karena menjadikan salah seorang penyerang sebagai narasumber untuk memojokkan uji tomografi yang dilakukan di kawasan itu.

"Patut dipertanyakan mengapa tidak mengetengahkan inti berita bahwa pada hari Kamis (5/9) ada sekitar 20 warga yang datang ke lokasi survei tanpa komunikasi langsung berteriak-teriak, mengeroyok dan memukul para peneliti yang sedang bertugas sampai babak belur. Diantara tim yang kena hajar adalah teknisi senior berusia hampir 60 tahun," ujar Erick Rizky dari TTRM dalam keterangan barusan (Kamis, 12/9).

Menurutnya, warga sekitar yang membantu survei, yang notabene adalah pemilik lahan yang disurvei, pun ikut digiring dan diarak. Bahkan, petugas situs Gunung Padang yang sedianya datang hendak menolong juga dipukuli bahkan ada yang sampai pingsan.

"Insiden ini sangat tiba-tiba dan tidak didahului protes ataupun dialog antara para pelaku kerusuhan dan para peneliti ini sebelumnya. Kalaupun misalnya sosialisasi belum cukup, sehingga masih ada kesalahpahaman, aksi kekerasan fisik tetap merupakan aksi kriminal yang ada konsekuensi hukum pidananya," kata dia lagi sambil menambahkan kini perkara pemukulan dan penyerangan ini telah ditangani pihak Polres dan Polsek setempat.

"Aksi main hakim sendiri bertolak belakang dengan budaya musyawarah dan mufakat masyarakat jawa Barat. Jadi (aksi kekerasan) jangan ditoleransi," demikian Erick Rizky. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA