"Krisis kepercayaan atau deficit in trust and credibility jauh lebih berbahaya dari quatro deficits yang terjadi sekarang," ujar ekonom senior DR Rizal Ramli dalam talk show bertajuk "Susah Payah Mendongkrak Rupiah" yang disiarkan Metro TV, Rabu malam (28/8).
Quatro deficits yang dimaksud Rizal Ramli adalah deficit neraca perdagangan, defisit neraca pembayaran, defisit balance of payments dan defisit anggaran. Defisit neraca perdagangan saat ini sebesar minus 6 miliar dolar AS, defisit neraca pembayaran sebesar minus 9,8 miliar dolar AS, defisit balance of payments sebesar minus 6,6 miliar dolar AS pada Q1-2013 dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp 2.100 triliun.
Krisis kepercayaan yang pada akhirnya membuat ekonomi Indonesia terpuruk seperti tahun 1998, kemungkinan bisa terjadi seiring adanya berbagai faktor penyebab munculnya defisit terhadap kepercayaan dan kredibilitas. Ekonomi kita saat ini sudah mendekati "lampu merah" tapi paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait gawatnya situasi perekonomian nasional tidak menyentuh persoalan. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sangat kecil hubungannya dengan defisit transaksi berjalan sehingga akan mengakibatkan tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Dengan kondisi ini Rizal Ramli memperkirakan sangat mudah bagi rupiah anjlok ke angka 12.000 atau 13.000 rupiah per dolarnya.
"Jangan lupa, rakyat kita sudah kena gebuk ronde pertama dimana harga pangan naik akibat kenaikan harga BBM dan Lebaran. Dan sekarang, rakyat kita kena gebuk ronde dua karena rupiahnya anjlok 20 persen, maka harga pangan akan ikut naik 15-20 persen," tuturnya.
Menko Perekonomian era Gus Dur ini juga mengingatkan klaim pemerintah bahwa keadaan ekonomi saat ini lebih bagus hanya terjadi pada pertumbuhan gross domestic product, tapi semua indikator ekonomi fundamental seluruhnya negatif. Situasi saat ini benar-benar berbeda dengan tahun 2008 dimana semua indikator ekonomi fundamental positif sehingga bisa bertahan dari krisis akibat anjloknya ekonomi Amerika Serikat.
"Sekarang ini indikator finansial kita semuanya negatif. Ini tidak terjadi dalam waktu semalam atau seminggu, tapi sudah terlihat sejak dua tahun lalu yang pelan-pelan menggeregoti terus. Pertanyaan saya kemana presiden, kemana menteri-menteri ekonomi kok tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan," demikian Rizal Ramli.
[dem]
BERITA TERKAIT: