Sebab penghargaan itu sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap kerukunan hidup umat beragama, yang dilakukan oleh rakyat Indonesia.
"Jika memang diberikan kepada bangsa Indonesia, tentu kita harus mengapresiasi penghargaan tersebut. Kehadiran SBY menerima penghargaan tersebut, karena beliau sebagai
kepala negara yang merupakan salah satu lambang negara, jadi wajar saja," ujar Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia, Faozan Amar (Kamis, 30/5).
Memang harus diakui, masih banyak kekurangan dalam pengelolaan kerukunan umat beragama di Tanah Air. Tetapi itu bagian dari tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia.
Karena itu, Faozan menambahkan, sebagai kepala eksekutif tertinggi, Presiden SBY harus bersifat tegas terhadap tindakan dan perilaku intoleran yang membahayakan keutuhan NKRI. "Jangan berwacana terus, ambil keputusan dengan tegas, sehingga tindakan intoleran akan berhenti," tegasnya.
Kalau SBY tetap ragu dalam menyelesaikan berbagai kekerasan yang terjadi, sebagaimana selama ini sering ditunjukan saat mengambil keputusan strategis, sambung Faozan, sebaiknya penerima penghargaan itu diwakilkan kepada pejabat lain, seperti Wapres Boediono.
[zul]
BERITA TERKAIT: