KRL Ekonomi merupakan tumpuan jutaan masyarakat commuter yang bekerja di Jakarta. Desi, seorang warga Depok misalnya. menyatakan, dia sangat keberatan jika KRL Ekonomi benar-benar dihapuskan. Pasalnya, harga tiket KRL
Commuter Line lebih mahal tiga kali lipat daripada KRL Ekonomi. Untuk Depok-Jakarta, harga tiket KRL Ekonomi hanya Rp 2.000, sedangkan
Commuter Line Rp 8.000.
“Satu kali beli tiket Commuter Line bisa untuk dua hari pulang pergi naik KRL Ekonomi. Saya tetap naik KRL Ekonomi karena pertimbangan harga,†ujarnya saat ditemui di Stasiun Depok Baru, kemarin.
Desi yang sehari-hari naik kereta menuju Tebet ini juga mengeluhkan sedikitnya jumlah rangkaian KRL Ekonomi yang beroperasi. Akibatnya, dia tidak bisa naik KRL Ekonomi setiap kali dibutuhkan.
Hal senada dikatakan Saepul, warga Bogor yang ditemui di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Menurutnya, rencana penghapusan KRL Ekonomi memberatkan rakyat kecil. Seharusnya, kata Saepul, pemerintah berkaca dan melihat penderitaan rakyat.
“Yang banyak naik kereta kan rakyat kecil. Bayangkan apa jadinya jika KRL Ekonomi dihapuskan. Beban kami jadi semakin berat,†keluhnya.
Mestinya, kata Saepul, pemerintah memberikan bantuan subsidi bagi penumpang kelas ekonomi. Sebab, setiap BUMN punya misi PSO (
Public Service Obligation) atau kewajiban melayani masyarakat.
Sebagai informasi, mulai Juli 2013, seluruh rangkaian KRL Ekonomi yang melintasi wilayah Jabodetabek akan dihapuskan. Nantinya KRL Ekonomi akan diganti KRL AC yang pengoperasiannya dilakukan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek. Mulai April ini dua rute KRL Ekonomi akan dihapus.
Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi 1 Jakarta Agus Sutijono menjelaskan, sebelum penghapusan KRL Bogor, tahap awal pihaknya akan menghapus KRL Ekonomi lintas Bekasi dan Serpong pada April 2013. Lalu dilanjutkan penghapusan KRL Bogor secara bertahap sampai Juli 2013.
Penggantian KRL Ekonomi ke AC ini, kata Agus, tidak akan mengganggu jadwal perjalanan. KRL Ekonomi tidak akan hilang karena akan langsung diganti KRL
Commuter Line. Salah satu alasan penarikan KRL Ekonomi ini karena usia kereta yang sudah tua. Rata-rata kereta yang dibuat tahun 1974 ini, memiliki kendala perawatan. Seperti sudah langkanya
spare part (suku cadang) kereta di pasaran, bahkan sudah tidak diproduksi lagi.
“Kami pun harus melakukan sistem kanibal dengan
spare part kereta yang sudah tidak beroperasi,†ujar Agus.
KRL Ekonomi, lanjutnya lagi, juga kerap kali mogok di tengah perlintasan rel, sehingga mengganggu seluruh perjalanan KRL di lintasan Jabodetabek.
Sepanjang 2012 misalnya, ada 1.228 perjalanan KRL Ekonomi yang terganggu. Akibatnya, sebanyak 4.217 perjalanan KRL AC atau pun KRL Commuterline terganggu hingga akhir 2012.
“Penyebab kereta mogok itu bervariasi, mulai dari motor penggerak serta mesin kereta yang mendadak mati,†tambahnya.
Selain itu, penumpang yang menggunakan KRL Ekonomi sejak 2010 sudah menurun. Terhitung mulai 2009, warga yang menggunakan KRL Ekonomi sebanyak 86,6 juta penumpang. Lalu pada 2010 menjadi 69,3 juta penumpang.
Tahun 2011 kembali turun menjadi 56 juta dan pada 2012 turun lagi menjadi 46,5 juta penumpang.
Suku Cadang Sudah Tak Ada Di PasaranRencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghapus kereta rel listrik (KRL) Ekonomi di Jabodetabek dinilai perlu mempertimbangkan para penumpang.
Pengamat kereta api dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana mengatakan, penghapusanKRL Ekonomi secara tidak langsung akan berdampak kepada ongkos yang akan dikeluarkan penumpang yang notabene wong cilik.
Dia menilai, subsidi pemerintah bisa dilakukan dengan menambah dana public service obligation (PSO) yang sudah ada. Menurutnya, selama ini dana PSO suka terlambat cairnya dan tidak 100 persen mampu diserap. Hasilnya, PT KAI kerap menalangi biaya operasional kereta kelas ekonomi.
Alternatif lainnya, kata Aditya, dengan menaikkan tarif KRL Ekonomi. Namun, itu sulit mengingat dari sisi armada, KRL Ekonomi sudah tidak layak. Dari sisi harga pun, sebesar Rp 2.000 dinilai terlalu murah dibanding armada darat lainnya.
“Padahal dari sisi jarak tempuh, jangkauannya cukup jauh untuk armada Jabodetabek,†katanya.
Rencana penarikan KRL Ekonomi, menurut Aditya, bagaimana pun patut disambut.
Mengingat kondisi kereta itu sudah tidak layak dari sisi keselamatan maupun kenyamanan. Namun, beranekaragamnya pengguna kereta api, disebut-sebut menjadi penyebab kereta itu juga layak dipertahankan.
“Kalau di luar negeri kereta sudah single class. Semua sudah memakai AC,†tandasnya.
PT KAI menyatakan sudah mulai menarik KRL Ekonomi di Jabodetabek, seperti di Tangerang. Menurut Kepala Humas PT KAI Mateta Rijalulhaq, kereta ekonomi yang sekarang masih beroperasi sudah tidak andal lagi. Kereta buatan tahun 1974 itu sudah berlubang di mana-mana dan suku cadangnya sudah tidak ada.
“Keputusan penghapusan KRL Ekonomi diambil demi memprioritaskan keselamatan penumpang. Kondisi KRL Ekonomi sangat memprihatinkan, sehingga kami mengajak penumpang memanfaatkan KRL Commuter Line walau harga tiketnya lebih mahal,†jelas Mateta.
PT KAI, lanjut Mateta, berharap penarikan seluruh KRL Ekonomi selesai dilakukan pada Juni, seiring penerapan tiket elektronik oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) serta sterilisasi stasiun. [Harian Rakyat Merdeka]