Karena banyak kekuatan yang ingin kondisi seperti sekarang terus berlanjut; banyak kekuatan yang menghendaki sistim pemerintahan yang lemah; banyak kekuatan yang suka dengan pejabat-pejabat yang bisa dibeli. Tujuan utamanya meraup uang sebanyak-banyaknya dan mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di bawah.
Prabowo mengungkapkan itu dalam surat terbuka dengan judul "Menuju 2014: Tahun Perubahan" di akun fan page Facebook-nya yang saat ini telah memiliki lebih 2 juta pengikut (Senin, 4/3).
"Celakanya, mereka-mereka ini sangat kuat dan sangat kaya. Mereka bergabung, menyatukan kekuatan sesama mereka yang merasa situasi sekarang sudah baik, dan perlu dipertahankan untuk kepentingan kelompok mereka. Lembaga-lembaga negara, institusi-institusi yang seharusnya membela kepentingan publik, diselewengkan dan akan terus dipertahankan sebagai alat daripada kekuatan mereka," ungkapnya.
"Saya yakin, sahabat tentu sudah melihat dan merasakan berbagai masalah ini semua. Jika belum, atau jika sahabat sudah lupa, mari kita melihat kembali perjuangan Joko Widodo dan Basuki T Purnama-bagaimana mereka, calon-calon pemimpin-pemimpin yang bersih, yang ingin berbuat baik, dikeroyok oleh kaum elite yang jahat," sambungnya.
Prabowo mengingatkan, sebelumnya tidak terbayangkan, dulu rakyat dan mahasiswa turun ke jalan, menghentikan masa Orde Baru karena kebocoran keuangan negara ada di kisaran 30 persen.
Baru-baru ini juga melalui tayangan YouTube Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terungkap di DKI Jakarta ada sebuah scanner komputer yang dianggarkan ratusan juta; ada motor yang seharusnya puluhan juta, dianggarkan lebih dari dua ratus juta. Ada renovasi dan pembuatan halte-halte bus yang dianggarkan sekian miliar, yang cukup untuk membeli rumah besar di kawasan Pondok Indah, mungkin bahkan cukup untuk membeli rumah di New York atau London.
Menurutnya, hal itu terjadi karena saat ini demokrasi sedang dibajak dan sedang dirusak oleh iklim kleptokrasi, oleh berkuasanya maling-maling sebagai pejabat negara. Ini adalah kondisi nyata yang dapat dirasakan bersama.
"Kita negara besar, terbesar keempat dalam jumlah penduduk, ke 16 dalam besaran ekonomi, yang merasakan angka pertumbuhan ekonomi 6,5 persen. Semua ini angka-angka yang mengagumkan, tetapi nyatanya kita besar karena konsumsi bukan karena produksi. Kita tumbuh karena ekstraksi sumber alam kita. Bangsa lain melirik Indonesia hanya untuk mengambil sumber alam kita dan pangsa pasar kita yang besar," sambungnya.
Meski begitu, Prabowo menegaskan, kita tidak boleh timbul kebencian kepada orang asing. Kita tidak boleh bersikap anti asing. Karena kita harus berkaca kepada diri kita sendiri. Justru kita harus mawas diri, instrokspeksi, instropeksi dan instrokspeksi. Kita harus berani melihat kelemahan kita, penyakit-penyakit yang ada di badan kita, baru kita bisa kuat, baru kita bisa bangkit.
"Kita tidak boleh kompensasi kekurangan kita dengan membenci bangsa lain. Ini akan membuat kita tambah lemah, tambah terperangkap dalam ketidakberdayaan. Saya sering mengatakan, kalau kita punya harta, dan harta itu dicuri oleh orang lain, itu bukan salah pencuri - itu adalah salah kita yang tidak mampu menjaga harta kita sendiri," imbuhnya.
Karena itulah, menurutnya, pemimpin yang benar di Indonesia, adalah pemimpin yang berani mengatakan secara jujur kepada rakyatnya: “Hai rakyatku, ini adalah keadaan kitaâ€. Pemimpin yang selalu memberikan kata-kata manis, dengan harapan rakyat terbuai bukanlah pemimpin yang benar.
"Disinilah saya harus mengatakan: Sebagian kelompok elite bangsa kita telah terbiasa membiarkan kebocoran anggaran negara, membiarkan kebocoran kekayaan-kekayaan bangsa," imbuhnya.
Tak hanya itu, sebagian pimpinan politik juga telah asik melanggengkan kekuasaan, tidak dengan sungguh-sungguh membangun kekuatan ekonomi bangsa Indonesia. Sebagian elite cendikiawan, tokoh kampus dan akademisi memilih diam daripada membela kebenaran dan membela rakyat (tidak mau tahu, pura-pura tidak tahu, tidak mau cari tahu, dan tidak ada usaha untuk mencari tahu apalagi untuk berpihak kepada kebenaran).
"Sahabatku, setiap hari kita dapat membaca di surat kabar, kita dapat tonton tiap malam di warta berita televisi, kita dapat lihat di sekeliling kita, kita dapat bicara dengan rekan-rekan, saudara-saudara kita yang berada di daerah-daerah, berada di birokrasi, berada di institusi-institusi pemerintahan, bagaimana korupsi, dekadensi moral, hilangnya integritas dan kejujuran telah tersebar dan merasuk dimana-mana," tandasnya.
Karena itu semualah Prabowo mengajak putera puteri bergerak melakukan perubahan.
"Saya percaya, bersama-sama kita bisa berbuat yang baik, berbuat yang benar. Kita bisa menyelamatkan masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita. Saya percaya kita masih bisa mencapai cita-cita perjuangan 17 Agustus 1945, yakni negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat, yang rakyatnya hidup dalam keadilan dan kesejahteraan. Banyak suku, banyak ras, banyak daerah, tetapi satu nusa, satu bangsa, satu cita-cita: Indonesia Raya yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto rahardjo. Aman, tenteram, makmur dan sejahtera," demikian Prabowo.
[zul]
BERITA TERKAIT: