Pada waktu itu rumor tersebut belum menjadi isu politik yang kuat karena masih cukup banyak masyarakat yang masih meragukan kebenarannya.
Namun belakangan ini, setelah makin banyak pernyataan Nazaruddin yang terbukti soal Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum dan lain-lain, maka pernyataannya soal Ibas dan Ani Yudhoyono telah menjadi isu politik. Beberapa TV telah membahas dan menayangkannya berulang-ulang dan di antaranya mewawancarai Oce Madril Ketua PUKAT UGM (Pusat Kajian Anti Korupsi UGM).
Karena sudah menjadi isu politik maka Presiden SBY dan atau Ibas dan Ani Yudhoyono harus memberikan klarifikasi dan klarifikasi yang paling kredibel adalah bila diserahkan kepada KPK untuk memeriksanya. Hal itu juga sangat penting untuk 2 alasan.
Yaitu, pertama, untuk menegaskan bahwa pidato SBY beberapa waktu yang lalu bahwa akan menghunus pedang untuk menegakkan hukum itu bukan hanya pidato pencitraan tetapi memang betul-betul akan melaksanakannya. Kedua, untuk mencegah berkembangnya isu ini di masyarakat secara liar tidak terkendali misalnya mengimajinasikan Ani Yudhoyono seolah-olah sama dengan Imelda Marcos.
Jabatan Presiden RI menimbulkan godaan yang luar biasa menggoda bagi dirinya dan keluarganya. Ibaratnya apapun yang diinginkannya akan ada pihak lain yang segera menyediakannya. Demikian mudahnya.
Namun Presiden RI yang juga adalah Kepala Negara RI mempunyai fungsi sebagai simbol Negara. Karena itu keluarganya harus bersih dari kasus, terhormat dapat menjadi contoh dan panutan seluruh rakyat. Rakyat harus mempunyai rasa bangga bila membicarakan tentang Presiden RI dan keluarganya.
Bila hal itu terjadi, maka akan menimbulkan semangat kerja, produktivitas, kreativitas bagi masyarakat karena mereka merasa diayomi, dilindungi dan diperhatikan. Sebaliknya para kepala daerah dan keluarganya juga akan merasa takut untuk berbuat yang menyimpang sehingga akan mempunyai efek berantai yang luas ke semua tingkat pejabat dan akhirnya akan membuat rakyat mempunyai rasa tenang dalam bekerja untuk keluarganya. [***]
Penulis adalah aktivis 77/78
BERITA TERKAIT: