Menteri Perdagangan Gita Wirjawan seharusnya dapat mengatasi gejolak kenaikan harga sembako dengan rata-rata di atas 40 persen jelang ramadhan ini. Tidak adanya langkah konkret untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok itu, membuktikan Menteri Perdagangan gagal melindungi masyarakat.
"Sangat aneh mengapa Menteri Perdagangan masih diam saja, bahkan operasi pasar pun tidak digencarkan sama sekali," tegas Direktur Lembaga Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Rabu (18/7).
Ia menontohkan, kenaikan harga sembako untuk rumah tangga bersifat ekstrem seperti terjadi pada gula putih, daging, ayam, beras, minyak goreng, atau telur. Sementara jenis barang pokok lain, dipastikan ikut meningkat drastis bila tak distabilkan pemerintah.
Syahganda mengatakan, Menteri Perdagangan terkesan membiarkan terjadinya liberalisasi harga sesuai hukum ekonomi pasar bebas, terkait harga sembako tersebut. Sikap lamban yang ditunjukkan Menteri Perdagangan juga mencerminkan rasa enggannya untuk menolong penderitaan yang dialami masyarakat luas. "Apakah ini gambaran dari sikap neolib Gita Wirjawan sendiri, tentu saja publik berhak untuk tahu kenyataan yang sesungguhnya,†ujarnya.
Menurutnya, kondisi harga-harga kebutuhan masyarakat di pasaran saat ini kian mencekik, yang bukan saja menambah berat beban sosial ekonomi, namun mengarahkan pada kehidupan yang semakin sulit. "Pendapatan masyarakat, kan sejauh ini cenderung tidak meningkat. Apalagi, secara bersamaan harus dihadapkan dengan beban biaya sekolah untuk tahun ajaran baru kali ini," jelas Syahganda.
Pemerintah, sambungnya, perlu mengambil langkah cepat guna mengintervensi lonjakan harga sembako, baik berupa kegiatan operasi pasar untuk menurunkan harga barang tertentu atau melalui penyelenggaraan pasar murah. "Jika ini tidak dilakukan maka artinya pemerintah menyerah pada kemauan pasar atau pihak swasta,†katanya.
Dalam menghadapi perkembangan situasi harga-harga pokok di pasaran, Syahganda mengharapkan, pemerintah sepatutnya bisa menetapkan batas maksimum harga eceran, sehingga masyarakat tidak selalu dikorbankan oleh kenaikan harga yang tidak wajar.
Sebelumnya, Gita Wirjawan menyaÂtakan, lonÂjakan harga sembako di bebeÂrapa daerah hanya persoalan paÂsokan (supply) dan perminÂtaan (demand).
“Dengan meningÂkatnya deÂmand, maka ada keterÂbatasan stok. Semuanya terganÂtung sama supply, kalau supply cukup maka kenaikan harga bisa diÂminiÂmaliÂsir. Sebaliknya juga deÂmiÂkian,†beber Gita di kanÂtorÂÂnya, Senin.
Menurutnya, peningkaÂtan stok harus diimbangi dengan saÂrana transportasi yang meÂmaÂdai. Saat ini, infrastruktur transÂportasi beÂlum mencukupi.“Faktor transÂportasi juga saÂngat mempengaÂruhi harga bahan poÂkok. Kita harapkan transporÂtasi arus barang pada masa LeÂbaran lebih lancar dan tidak ada gangÂguan,†jelas Gita. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: