Di kalangan PKS, doktor bidang hadits dari Arab Saudi ini bukan saja politisi yang pernah menjadi Ketua MPR. Hidayat adalah ustadz dan
murabbi (pembimbing) bagi kader yang sangat diperhitungkan dan kharismatik. Menjelang Pilpres 2009, nama Hidayat pun muncul sebagai salah seorang calon presiden dari PKS.
Bagi PKS, dalam Pilkada DKI Jakarta, tentu saja ini bukan soal menang atau tidaknya seorang Hidayat. Pilkada juga merupakan pertaruhan gengsi. Jangan dilupakan, dalam Pilkada Jakarta tahun 2007, PKS berani menghadapi semua partai yang saat itu mengusung Fauzi Bowo-Prijanto.
Bahkan bila melihat lebih ekstrim lagi, sebagimana pandangan sementara kalangan, Pilkada DKI Jakarta merupakan pertaruhan eksistensi PKS ke depan, baik dalam pemilihan legislatif maupun dalam pemilihan presiden. PKS akan semakin percaya diri mengusung Hidayat maupun tokoh yang lain dalam Pilpres bila dalam Pilkada Jakarta berhasil keluar sebagai pemenang.
Begitu pula, PKS diperkirakan akan minder bila dalam Pilkada Jakarta, yang mengusung tokoh sekelas Hidayat di kawasan yang juga basis PKS, ternyata kalah. PKS memang partai yang tidak terlalu mengutamakan figur tertentu karena roda organisasi dan sistem partai berjalan rapi, atau dalam bahasa internal mereka
shaffan kaannahum bunyanun marshush. Namun bila tokoh sekaliber Hidayat terjungkal, bagaimana bisa PKS akan percaya diri mengajukan calon presiden di Pilpres 2014.
[ysa]
BERITA TERKAIT: