Waktu bergulir terus tanpa mengenal kompromi. Pergantian waktu menjadi hal yang biasa bagi yang tidak memiliki kesadaran. Seolah semua konstan dan stagnan. Padahal, dunia terus bermetamorfosis begitu dahsyat, termasuk juga Rusia!.
Menjelang akhir tahun 2010, seorang bapak (WNI) yang berumur 65 tahun berkunjung ke kantin KBRI Moskow. Pria kelahiran Sumatra Barat yang sedang menyantap rendang ini sepertinya kesepian. Tatapan matanya menerawang dan langkahnya sedikit gontai, walau tubuhnya masih tampak sehat dengan rambut hitam yang lebat. Dengan jas dan tas hitamnya ia mengaku telah berkelana di Moskow lebih dari sepekan. Tiupan angin sepoi dan indahnya musim gugur diabaikan begitu saja. "Saya mau ke masjid Prospek Mira. Sekedar melihat-lihat," ujarnya.
Benarkan ia sedang bernostalgia? Ya, sambil menggantung sebuah harapan yang dibangunnya sejak beberapa tahun yang lalu. Merekonstruksi biduk keluarga yang sempat pecah dihantam ombak dan badai politik kehidupan pada masa Perang Dingin. Sebuah perjuangan yang tidak kalah serunya dibanding melawan penjajah Belanda.
Bapak sepuh ini sebenarnya bukan orang asing di Moskow. Pada tahun 1965 ia pernah datang di negeri beruang putih untuk menggali ilmu pengetahuan bidang metalurgi. Suatu ilmu yang memang sangat penting sampai saat ini. Sebagai mahasiswa Universitas Airlangga yang kala itu masih berumur 20 tahun, ia kemudian terdaftar di salah satu universitas St. Petersburg, kota cantik di ujung barat utara Rusia.
Dengan prinsip mendayung dua pulau terlampaui, ia kemudian kecantol bidadari dari Moskow yang berparas cantik, semampai, kulit putih dan baik hati. Kisah cinta terus dirajut baik di musim panas, gugur, semi dan dingin. Ia bahkan seolah melupakan nasehat bapaknya yang mengatakan, "Kau jangan pernah pulang membawa oleh-oleh yang bisa jalan sendiri."
Diam-diam, cintanya tak bisa dibendung. Bagaikan lahar dingin Merapi yang merayap turun saat hujan lebat tiba. Tak seorangpun mampu menahan. Bahkan tautan hati itu kemudian direalisasikan dalam sebuah perkawinan yang penuh kesakralan. Tentu keduanya berharap, seusai kuliah nanti, kehidupan merek akan bertambah baik dengan anak-anak yang sangat lucu. Sebuah harapan yang sangat normat bagi sepasang pengantin baru.
Tetapi siapa pernah bisa menebak masa depan? Badai itu datang juga. Pada tahun 1971, paspornya habis dan hubungan Indonesia-Rusia diterpa perbedaan ideologi akibat Perang Dingin. Tidak ada alternatif kecuali harus pulang ke Indonesia agar tidak dicap sebagai pendukung komunis. Percintaan yang sedang menggelegak harus diputus paksa. Harus mengucapkan sayonara pada saat istri akan melahirkan kurang dari 3 minggu. Ia bimbang, galau, gelisah dan merenawang.
Selama rejim Orde Baru berkuasa, ia sangat sulit untuk berkomunikasi dengan sang istri di Moskow. Hanya sesekali bila sedang kunjungan ke luar negeri ia sempatkan untuk menelpon dan berkirim surat. Ia tetap menyatakan cintanya meski disekat oleh zaman dan kekejaman politik dunia. Ia tetap memendam rindu pada istri dan anaknya.
Setelah 39 tahun ia meninggalkan Rusia, September itu ia melakukan muhibah ke kota tempat istri dan anaknya tinggal, Moskow! Penerbangan panjang diabaikan karena harapan menjahit kehidupan lama telah digantungkan: back to family. Sebongkah harapan dipikul dan sejuta mimpi dirajut. Anak perempuannya yang kini berumur 39 tahun menjadi titik puncak kerinduan.
Ia dijemput sang istri di airport Domodedovo lalu dibawa ke sebuah apartemen yang cukup sederhana di pinggiran kota Mokow. Anaknya juga tinggal serumah dengan cucu yang lucu. Sedangkan sang menantu telah "hilang" entah kemana. Keluarga ini merajut kehidupan yang jauh dari kemewahan alias sekedar cukup untuk kota metropolitan termahal di dunia.
Berselang hampir empat puluh tahun bukan waktu yang singkat. Semua telah bermetamorfosis tanpa mengenal kompromi. Ternyata, sang istri bukan seorang gadis yang lincah yang dulu dikenal. Perangainya sudah berubah. Anak perempuannya juga tidak telalu banyak berkomunikasi dengannya entah kenapa. Kehidupan sepekan di apartemen sederhana akhirnya membuat sesak di dada. Bahkan sang istri sempat menyatakan capek mengurusi dirinya.
Beberapa hari kemudian, sang Bapak memutuskan untuk angkat koper. Tidak lagi tahan atas berbagai perbedaan yang mengemuka. Inilah langkah yang terbaik meski sempat dicegah oleh istri dan anak. Meski meninggalkan cucunya yang sedang lucu-lucunya. Ia lebih merasa betah tinggal di penampungan sebuah institusi pemerintah sambil menunggu hari keberangkatan ke Indonesia.
Bisa jadi, Bapak ini tidak sadar tentang perubahan dahsyat yang terjadi selama 39 tahun. Meski tetap menjadi ibukota, kota Moskow kini bukan lagi dibawah cengkeraman kekuasaan politburo. Tidak ada lagi sama suka sama rasa. Benih-benih demokrasi telah mulai tumbuh dan berkembang menggantikan sistem lama yang tumbang akibat glasnost dan perestroikanya Gorbachev. Sosialisme telah tergilas oleh kapitalisme yang merunyak di semua penjuru kota. Persaingan ketat menjadi bagian kehidupan yang tidak bisa lagi dielakkan. Kuku-kuku komunisme sudah letoi di Rusia!
Moskow kini menjadi salah satu kota ekonomi terbesar di Eropa dan menyumbang pada kisaran 20 persen dari PDB Rusia. Bahkan, Mercer Human Resources Consulting menyebutkan bahwa pada tahun 2006, Moskow merupakan kota dengan cost value paling mahal di dunia sebagai konsekuensi dari stabilisasi mata uang rubel dan membumbungnya harga perumahan.
Pada tahun 2008, di Moskow terdapat 74 miliuner, menempatkan kota tersebut lebih tinggi dari New York yang hanya memiliki 71 miliuner. Tetapi, hal itu kemudian turun drastis pada tahun 2009 dimana hanya terdapat 27 miliuner dibading New York yang bertahan dengan 55 miliuner pada saat krisis global melanda dunia.
Tanpa disadari Bapak tua kita, GDP per-kapita di Rusia berada pada 15 ribu dolar (2009) dan GDP nasional sebesar 2.109 triliun dolar atau ranking ke-7 di dunia berdasarkan data yang dilansir oleh IMF. Komposisi angkatan kerjanya juga bervariasi mulai pertanian (10 persen), industri (31 persen) hingga jasa (58 persen). Tidak kurang-kurang, gap antara si miskin dan si kaya semakin lebar.
Kini, mobil Lada dan Volga bikinan Rusia sudah tersingkir oleh Mercedes dan BMW. Meskipun metro bawah tanah mampu mengangkut 7 juta penumpang, jalanan dengan 14 line di kota Moskow tetap sesak dan penuh kemacetan. Pop culture yang ditanam oleh lawan politik di masa Musim Dingin kini tumbuh subur di Rusia. Mulai dari Mc. Donald’s sampai Pizza Huts ada di setiap pojokan jalan, sedangkan makanan lokal Kartoshka dari kentang yang dipanaskan mulai termarginalkan.
Dalam persaingan yang makin ketat ini, maka berlaku hukum siapa yang lebih memiliki ketrampilan akan mampu survive lebih baik. Siapa yang "kuat" akan memenangkan peperangan. Siapa yang "lemah" akan tergusur oleh jaman yang terus berubah. Dan, semua perubahan yang demikian dahsyat dalam 15 tahun terakhir ini telah mampu merubah pola pikir dan pola hidup manusia di dalamnya.
Bisa jadi, perubahan-perubahan tersebut telah membuat tekanan yang maha kuat baik secara mental, psikis dan lainnya dari istri Bapak tua kita, termasuk sang anak. Sama rasa dan sama rata hanya sebuah konsep kenangan masa lalu. Perubahan telah menciptakan perubahan lainnya!.
Kini, di dalam dunia kapitalisme Rusia yang dahsyat, sebuah kenyataan menyeruak: sang istri hanya menjadi pelayan sebuah toko, sedangkan anak kesayangannya banting tulang dengan berjualan makanan yang dijajakan dari satu kios ke kios lainnya. Hidup mereka tampak berat dan sarat beban.
Istrinya bukan lagi gadis cantik nan lincah yang dikenalnya pada masa kuliah dulu. Ia telah menjadi tua, berbadan lebar, tidak necis serta susah tertawa riang. Sang anak, meski masih muda usia, juga menanggung beban berat setelah suaminya minggat entah kemana. Wajahnya layu dan jiwanya cukup labil. Rupanya beban hidup yang terlalu berat telah menciptakan tabir keceriaan dan membangun tembok sekat kemesraan.
Impian puluhan tahun bapak tua kita akhirnya berakhir dalam impian semata. Keindahan yang pernah dirajut sekian lama kini berhenti sebagai keindahan dalam kenangan. Angan-angan dan realita berjarak sangat jauh, bagaikan langit dan sumur bor. Inilah sebuah kepahitan hidup lain yang mesti dihadapi dan dijalani. Menyakitkan dan menyesakkan jiwa.
Dalam hari-hari sebelum kepulangan ke tanah air, bapak kita akhirnya memutuskan terus menelusuri lorong-lorong kota Moskow. Kedua kaki tuanya diayun tanpa arah yang jelas. Tarikan nafasnya semakin berat dirasakan. Kadang, air matanya meleleh tanpa bisa ditahan. Ia sedang bernostalgia untuk sesuatu yang telah mengalami perubahan. Bermimpi-mimpi atas sesuatu yang musykil.
Sungguh, tak seorangpun yang mampu membaca pikiran dan hatinya yang terus berkecamuk. Tapi, siapapun kita, pasti akan berharap bahwa pada akhirnya ia akan melupakan semua yang dialaminya dan pulang ke Indonesia sambil berdendang: Dia bukan yang dulu lagi. Oh...
(Penulis adalah WNI yang tinggal di Rusia, [email protected])