FROM MOSCOW WITH LOVE (33)

Sepenggal Kemesraan Worosjilov

Oleh: M. Aji Surya

Senin, 23 Januari 2012, 07:30 WIB
Sepenggal Kemesraan Worosjilov
m. aji surya/ist
"Нет друга - ищи, а нашел - береги!"  Bila tidak memiliki teman, carilah. Bila sudah mendapatkannya, jagalah.

Setumpuk kliping koran warna kuning kumal teronggok tak terurus. Sepertinya ditinggal sang empunya begitu saja. Sekilas dari judul halaman pertama, memaksa kedua mata saya untuk melongok lebih dalam. Wow, ternyata isinya sebuah cerita kemesraan masa lalu antara Indonesia dan Uni Soviet (US). Eksotik sekali!

Membolak-balik isi kliping lusuh itu membawa angan-angan saya terbang ke suatu masa di tahun 1957, jauh sebelum sebagian besar kita nongol di bumi Indonesia. Waktu itu, rupanya terjadi sebuah perhelatan yang cukup besar dalam sejarah protokoler nasional. Pemerintah Indonesia menyambut tamu besarnya, Presiden Presidium Tertinggi Soviet, Kliment Efremovitch Worosjilov.

Kedatangan Worosjilov, 6-19 Mei 1957, adalah sesuatu banget bagi Indonesia. Bagaimana tidak, waktu itu, Indonesia sedang menjalin kemesraan dengan US, negara awal yang mengakui kemerdekaan RI serta mendukung Irian Jaya menjadi bagian dari Indonesia. Suatu masa dimana secara psikologis, Indonesia masih berhadapan dengan "penjajah" yang kapitalis dan perlu teman yang melindungi. Suatu masa yang menurut istilah Presiden Soekarno, Indonesia belum merdeka sepenuhnya.

Kunjungan Worosjilov adalah balasan kunjungan Soekarno ke US pada tahun sebelumnya. Kedatangan presiden pertama Indonesia tersebut rupanya telah disambut dengan gegap gempita sebagaimana layaknya pemimpin besar dunia. Pertemuan dengan pemimpin adi daya US saat itu pastilah dimaknai sebagai sebuah penghormatan yang luar biasa bagi bangsa yang baru saja lahir ke permukaan bumi. Tidak pelak, kunjungan balasan Worosjilov juga harus mendapatkan sambutan yang tidak main-main.

Seminggu sebelum kedatangan Worosjilov, konsep kunjungan sudah disusun secara rapi oleh Pemerintah Indonesia. Menteri Pengerahan Rakjat untuk Pembangunan, A.M. Hanafi misalnya, meyerukan kepada rakyat Indonesia untuk memberikan sambutan yang hangat. Harus sepadan dengan yang diberikan US pada saat kunjungan Presiden Soekarno disana. "Lepas daripada segala ideologi, kundjungan presiden Worosjilov hendaknja kita terima sebagai kundjungan seorang kepala negara," ujarnya.

Salah satu kelompok masyarakat kita yang menyambut sangat antusias adalah Partai Komunis Indonesia. Bahkan Politbiro CC PKI mengeluarkan statemen sambutan yang menyatakan antara lain, kedatangan Vorosjilov di tanah air merupakan peristiwa bersejarah yang sangat penting dalam pelaksanaan politik internasional Indonesia yang maju, mandiri, dan tidak memihak. Itu karena sikap politik Soviet selalu memihak rakyat dan melawan penjajah.

Sementara itu, ada juga beberapa kelompok yang memberikan kritikan atas kedatangan Worosjilov. Mereka menganggap bahwa kunjungan tersebut akan memperkuat posisi PKI, khususnya dalam perebutan kursi di DPRD. Namun, suara ini sepertinya kalah gaung dibanding mereka yang gegap gempita memberikan sambutan hangat.  

Menurut harian Minggu Merdeka, ongkos kedatangan tamu besar RI tersebut tidaklah sedikit. Sempat disiapkan anggaran sampai dengan Rp 12 juta, namun akhirnya yang dikonfirmasikan hanya sebesar Rp 3 juta saja. Dicontohkan, ongkos tersebut antara lain untuk membuat bendera kertas yang nilainya 5 sen per lembar. Dengan jumlah bendera sebanyak 5 juta, maka ongkosnya mencapai Rp 250 ribu.

Sebelum kunjungan akbar tersebut, aneka media sudah membicarakannya secara gencar. Mulai dari biografi sang tamu, pengerahan massal, sambutan di airport, pelepasan burung merpati, hingga aneka kunjungan di Bandung, Yogyakarta dan Bali serta Medan. Sejak awal Mei 1957, harian Indonesia Raya, Abadi, Sin Po, Bintang Timur, Harian Rakjat, Pedoman, Suluh Indonesia, Republik dan juga Indonesian Observer terus menyoroti perhelatan kunjungan yang berlangsung hampir dua minggu itu.

Pada tanggal 6 Mei 1957, Harian Suluh Indonesia menulis biografi sang tamu yang lahir tahun 1881. Diceritakan, Worosjilov menghabiskan masa kecilnya sebagai penggembala, tukang bubut, dan pada usia 17 tahun ikut berkiprah dalam gerakan revolusioner. Pada tahun 1906, ia diutus dalam kongres partai dan berjumpa dengan Lenin untuk pertama kalinya. Ia sangat aktif menggerakkan rakyat untuk menumbangkan kekuasaan Tsar dan tidak jarang masuk keluar penjara karena pendiriannya yang berpihak pada rakyat. Karena kegigihannya pula akhirnya Vorosjilov dipilih menjadi seorang Presiden Presidium Tertinggi negeri adidaya.

Dalam perjalanannya ke Indonesia, Worosjilov mampir dahulu di Peking, China. Beberapa harian di Indonesia menghangatkan suasana di tanah air dengan memberitakan bahwa pimpinan US tersebut disambut “sejuta” rakyat Tiongkok yang langsung dipimpin oleh pimpinan Partai Komunis, Mao Tsetung dan PM Chou Enlai. Dalam pertemuan antara para pemimpin besar komunis tersebut Worojilov mengajak dunia untuk menghentikan petualangan militer dan bersaing secara damai.

Worosjilov datang ke Indonesia memang bukan dalam rombongan yang kecil. Ia ditemani oleh Wakil Ketua Presidium Soviet, Menteri  Urusan Pendidikan Tinggi, Wakil Menteri Luar Negeri, anak, menantu, ajudan dan lainnya yang semuanya mencapai kisaran 40 orang. Pada saat kedatangan, harian Republik memperkirakan 10 ribu rakyat Jakarta yang terdiri dari 4.000 kaum buruh, 1.000 wanita, 1.000 pemuda, 1.000 petani, 1.000 veteran, 500 mahasiswa dan 500 wakil golongan Tionghoa akan ikut memberikan sambutan.

Tidak hanya itu, Ikatan Sepeda Kumbang Djakarta akan mengerahkan 300 anggotanya untuk berjajar di pinggir jalan dekat Kemajoran. Dan saat mendarat di bandara Kemajoran, tamu agung akan disambut 21 kali dentuman meriam dan dilanjutkan salaman dengan anggota kabinet serta korps diplomatik.

Ternyata ramalan itu bisa dibilang meleset. Pada saat kedatangan rombongan Worosjilov, 6 Mei 1957 pukul 16.15, sambutan yang diberikan rakyat Jakarta jauh lebih meriah. Disebutkan ratusan ribu rakyat mengelu-elukan sang tamu sambil mengibarkan bendera kedua bangsa. Sebanyak 5 ribu burung merpati diterbangkan. Barisan penghormatan diberikan oleh Angkatan Darat dan Udara. "45 pesawat dari Angkatan Udara RI dari berbagai Djenis menderu-nderu di udara yang kemudian disusul pula oleh pesawat pembom dan jet pantjar gas RI," tulis harian Patriot. Berita Presiden Soekarno berpelukan dengan Worosjilov sontak menghiasi berbagai media tanah air.

Dalam kesempatan penyambutan itu, Presiden Soekarno menyatakan bahwa Vorosjilov datang pada saat rakyat Indonesia sedang menjalani revolusi menuju kemerdekaan nasional yang penuh, keadilan sosial, dan perdamaian dunia. "Paduka sedang ada di Jakarta, tempat lahirnya revolusi," katanya.

Sementara itu, Vorosjilov menekankan perlunya segera dihapuskan pangkalan-pengkalan militer negara asing, penarikan pasukan asing dan penghapusan kolonialisme di seluruh dunia. Semua bangsa harus diberikan hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

Harian Patriot memberitakan, kedatangan tamu agung ini telah menyebabkan Jakarta menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai pelosok. Ratusan ribu rakyat laksana air bah yang membanjiri ibukota tanpa bisa dicegah. Presiden Soekarno dan Worosjilov berdiri diatas mobil melambai-lambaikan tangannya kepada rakyat sepanjang jalan. Mobil yang membawa kepala negara itu kadang terpaksa berjalan pelan dan berhenti karena diserbu rakyat yang ingin melihat dan bersalaman. Menurut reporter RRI, sambutan ini merupakan yang paling meriah dan terhebat dari semua sambutan yang pernah diberikan terhadap tamu-tamu negara lainnya.

Sambutan di kota lain juga tidak kalah meriahnya. Di Jogja misalnya, tamu ini "diterima" puluhan ribuan rakyat yang mengular di pinggir jalan sampai 10 km panjangnya. Sebanyak 400 ribu bendera merah putih dan 140.000 bendera Soviet dicetak serta 350 mobil disiagakan. Bahkan lagu Kebo Giro dan Sampak Sanga mengalun mengiringi kedatangan sang tamu.

Dalam kunjungan ke kota gudeg itu, kedua pemimpin bangsa mengadakan rapat raksasa di alun-alun kota Solo yang dihadiri oleh ratusan ribu rakyat. Dalam kesempatan itu, Vorosjilov kembali menegaskan dukungan negaranya atas kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Selain itu, dikatakan pula bahwa hubungan internasional harus berlandaskan asas-asas koeksistensi, tanpa memandang perbedaan politik yang dianut oleh masing-masing negara.

Pastilah, Vorosjilov meninggalkan Indonesia dengan sejuta kenangan. Kunjungan penuh kehangatan. Kemesraan yang sangat sulit untuk ditorehkan dengan kata-kata. Sebuah penggalan sejarah di masa lalu yang mungkin sudah dilupakan oleh anak bangsa di masa kini.

Penulis adalah WNI yang tinggal di Rusia, [email protected]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA