FROM MOSCOW WITH LOVE (32)

Mencari Arah Kiblat

Oleh M. Aji Surya

Kamis, 19 Januari 2012, 06:33 WIB
Mencari Arah Kiblat
m. aji surya
Mendapatkan arah kiblat yang benar tidaklah semudah membeli singkong goreng. Apalagi mencari kiblat sebuah bangsa di tengah percaturan dunia yang kompleks. Perlu keberanian mengambil sikap dengan penuh perhitungan.

Musim gugur lalu, di atas bantaran sungai Moskow yang membelah Gorky Park, dua mahasiswa Indonesia yang baru seminggu tiba di kota ujung dunia itu merebahkan punggung mereka. Sambil menengadah ke langit yang masih berwarna lumayan biru, angin semilir bertiup mencium muka keduanya diikuti gugurnya daun-daun yang berwarna kuning. Temperatur yang sudah sedikit melorot ke angka 10 derajat tidak mengurangi keasyikan mereka dalam bercengkerama dan mendiskusikan dunia baru yang mereka temui.

“Saya sungguh tidak mengira bahwa perubahan disini begitu cepat. Tentu sangat menarik untuk dikaji dari sisi sosiologi,” ujar dosen sosiologi berambut panjang dari salah satu perguruan tinggi terkemuka Indonesia.

“Kita tidak salah datang ke tempat yang begitu eksotik, penuh perubahan dan dinamika. Inilah sebuah bangsa yang menurut buku yang saya baca kemarin, memiliki kegamangan dalam mencari pijakan filosofis,” sambut teman prianya yang mengambil S3 filsafat.

“Apalagi riset sosiologi belum terlalu banyak dilakukan sehingga saya menjadi lebih bersemangat,” ujar gadis dosen sambil meluruskan rambutnya yang tertiup angin.

“Yah, satu-satunya tantangan kita sekarang adalah bagaimana menguasai bahasa Rusia dalam satu tahun pertama. Selebihnya kita akan enjoy dengan riset kita.”

Rusia bagi mahasiswa asing yang baru memang selalu hanya memberikan dua kemungkinan: keasyikan atau kekecewaan. Bagi mereka yang suka tantangan, inilah dunia baru yang penuh dinamika, tapi bagi yang sekedar mendambakan fasilitas dan lari dari kepahitan di tanah air, Rusia bukan tempat yang sangat bersahabat. Keduanya sangat tergantung pada niat yang dikantongi dari Indonesia.

Bagaimana tidak, di Rusia saat ini sedang terjadi sebuah pergulatan yang sangat hebat. Sebuah proses panjang bak kalimat yang tidak seorangpun akan tahu dimana koma dan titiknya. Perhelatan konsep hingga percaturan kegiatan riil. Semua berbaur menjadi satu dalam sebuah orkestra dan metamorfosa yang unik dan eksotik. Dalam masa transisi seperti ini tentu ada ketidakpastian dan dinamika yang enak ditonton, dinikmati atau juga kadang pahit dirasakan. Sama seperti orang asing yang datang ke Indonesia dan melihat perjalanan blantika musik demokrasi Indonesia yang kadang bersuara merdu, minor atau mungkin juga sengau bahkan sember.

Jejak panjang filsafat Rusia adalah adalah sebuah misteri yang terbentuk oleh sejarah dan alam yang melingkupinya. Ini merupakan cerminan yang mendalam mengenai angan-angan, cita-cita dan pikiran rakyatnya. Banyak yang bilang bahwa Rusia mempunyai takdir yang khusus (istimewa dan aneh). Tak sedikit yang mengatakan bahwa ciri khas pikiran mengenai filsafat Rusia adalah mengalir di awang-awang dan bersifat pesimis dalam hubungan masa lalu Rusia, masa sekarang, dan kepercayaan yang optimis mengenai masa depan.

Selama abad ke-19 dan bahkan hingga saat ini, terjadi kontroversi di antara orang Rusia mengenai kemana Rusia harus bekiblat. Apakah harus menapaki jalan dan nilai asli Rusia sendiri sebagaimana dimotori kaum slavophil atau berkiblat ke Eropa Barat sebagaimana disarankan kaum zapadniki. Itulah salah satu konsekuensi dari sebuah bangsa yang masyarakat dan geografinya terbagi menjadi bagian: Eropa dan Asia. Polemik kebudayaan tentang arah pilihan dan perkembangan peradaban Rusia telah dipicu setelah reformasi yang dilakukan oleh Peter I Agung (1672-1725).

Slapovil yang lahir lebih tua langsung ditantang oleh Zapadniki yang merupakan aliran utama yang muncul di Rusia di tahun 1840-an. Zapadniki mengganggap Rusia seharusnya menjadi bagian dari Eropa dan mengikuti garis Barat karena masa depan bangsa Rusia berada dalam pergesekan langsung dengan Barat. Menurut mereka penting bagi Rusia untuk mengadopsi ide-ide Barat demi kemajuan Rusia.

Di sisi lain, Slavophil membanggakan keaslian karakter nasional dan kekhasan budaya bangsa Rusia dan melihatnya sebagai modal dasar bagi masa depan bangsa. Slavophil berpandangan bahwa keagungan kebudayaan masa lampau Rusia adalah sebuah kekuatan yang besar sehingga tidak pantas Rusia hanya sekedar menuruti peradaban Barat. Rusia mempunyai kepribadian nasional (samobytnost) untuk menentukan jalannya sendiri yang berbeda dengan jalan yang dilalui Barat. Menurut aliran ini, perkembangan Rusia harus bertumpu pada tiga pilar penting yakni Ortodoksi (Pravoslavie), otokrasi (samoderzhavie), dan kerakyatan (narodnost). Dan nilai-nilai itu harus dituangkan dalam semangat kolektif (sobornost) bukan dengan individualisme Barat. Kolektivitas inilah yang dalam batas tertentu menjadi ciri bangsa-bangsa Asia.

Menurut pemikir Rusia beraliran slavophil, Pyotr Chaadaev, Rusia harus menekankan kesadaran atas nilai-nilai asli Rusia, oleh karena itu ia tidak tertarik dengan filsafat orang per-orang namun lebih tertarik pada suatu kelompok. Chaadaev bersikeras bahwa kebesaran peradaban Rusia terletak pada keaslian Gereja Ortodoks dan berbagai institusi sosial tradisional Rusia.

Chadaaev menyatakan bahwa Ortodoksi adalah ide yang sangat fundamental untuk seluruh arus pikiran Rusia di abad ke-19. Ia memperoleh keyakinan yang mendalam bahwa Rusia mempunyai bakat istimewa untuk memecahkan banyak persoalan sosial yang berat, mampu memenuhan ide-ide hebat yang diambil dari kebangkitan dan kejayaan masyarakat masa lampau, serta bisa menjawab pertanyaan penting umat manusia. Dalam kata-katanya, Chaadaev menyerap ide mesianisme lalu dikombinasikan dengan pengharapan datangnya era baru jiwa dan semangat yang suci.

Adapun Zapadniki menganggap bahwa Rusia seharusnya menjadi bagian dari Eropa dan mengikuti garis Barat atau dengan kata lain jalan menuju kemajuan Rusia adalah sejajar dengan garis Eropa. Menurut zapadniki, nilai dasar sebuah masyarakat adalah manusia sebagai mahluk yang bebas yang tidak ingin penyeragaman yang bersifat umum. Manusia harus mandiri, aktif, dan siap menerima perbedaan pendapat. Zapadniki sangat memuja peranan iptek dalam kehidupan masyarakat, menghargai norma hukum, dan institusi pemerintah.

Zapadniki menerima reformasi Peter I dan pandangan yang meletakkan masa depan Rusia mengikuti jalan Barat. Sedangkan Slavophil menolak reformasi Peter I dan meyakini bahwa Rusia mempunyai tipe budaya asli yang spesial dan khusus. Tipe budaya yang asli dan spesial ini dinilai selalu diganjal dari luar yang kemudian dikotori dari dalam oleh Reformasi dan Eropanisasi pada awal abad ke 18 oleh Peter I. Inilah sebuah pertentangan yang tidak pernah ada titik temunya.

“Kalau Peter the Great dengan westernisasinya telah mampu membangun kota St. Petersburg yang fenomenal itu, adakah yang salah dengan munculnya revolusi Bolshevic yang menghadirkan pemerintahan komunis yang bertumpu pada nilai-nilai kemandirian dan mengantarkan Rusia menjadi superpower?,” sang dosen sosilogi seolah berbicara dengan langit.

“Ah, pertanyaan itu belum selesai. Mestinya kau teruskan dengan pertanyaan lanjutan: Masih perlukan perestroika dan glasnost yang menghadirkan westernisasi di Rusia saat ini?,” celetuk mahasiswa filsafat sambil garuk-garuk kepala.

“Kharosho (baiklah). Kalau kita mendalami secara ilmiah kiblat pembangunan negara Rusia, sebaiknya kita lebih sering lagi mempertanyakan kiblat pembangunan bangsa kita. Sudahkah di jalur yang benar ataukah sekedar tambal sulam atau maju mundur seperti seterika?” sambung dosen sosologi yang seolah tidak memerlukan jawaban lagi.

“Ya, jujur saja, bangsa kitapun sebenarnya juga masih tertatih-tatih dalam mencari arah kiblat. Kadang terseret pada arus yang tidak menguntungkan. Budaya dasar sering terabaikan. Sementara demokrasi bebas luas yang kita bangun, so far, ternyata menghasilkan sebuah kenyataan lumayan pahit dan getir. Benarkah karena ini semua masih masa transisi?”

Sore itu, perbincangan dua mahasiswa baru tidak selesai meski matahari sudah mulai enggan bersinar. Angin sejuk nan semilir dari kutub utara terus berhembus ditemani rontoknya dedaunan di musim gugur di taman yang sangat tenar ini. Sebuah teka teki masih terus akan berkecamuk di kepala dua calon ilmuan kita. Kemanakah kiblat bangsa Rusia dan Indonesia?[***]

Penulis adalah diplomat Indonesia di Rusia

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA