Pertemuan sedarah itu tiba-tiba menyeruak begitu saja di Moskow. Seorang wakil rakyat yang sedang melakukan kunjungan kerja bertemu dengan kakak sepupunya yang selama 55 tahun hanya mampir dalam cerita keluarga. Sebuah adegan yang mengharukan.
Sungguh, sore di bulan April 2011 itu merupakan hari istimewa bagi Dadoes Soemarwanto, anggota DPR Komisi Satu dari Fraksi PDI Perjuangan. Bukan karena ia sedang berulang tahun di Moskow, namun karena ia untuk pertama kali dalam hidupnya bisa bersua dengan kakak sepupunya, Nyonya Ami Intoyo, anak pakdenya, Prof. Intoyo. Matahari yang cerah di musim semi dengan hembusan angin sepoi seolah memberikan tambahan restu bagi reuni keluarga tersebut.
Nyonya Ami Intoyo yang mengenakan baju panjang warna hitam dan syal merah tiba-tiba muncul dari gedung KBRI Moskow dengan jalan yang tartatih, menopang tubuhnya yang terlihat ringkih dan tua. Ia ditemani seorang saudaranya yang juga tidak pernah pulang ke Indonesia. Begitu bertemu, ketiganya berdekapan erat ditengah tepuk tangan meriah para anggota DPR Komisi Satu bersama masyarakat Indonesia di kota Moskow.
"Saya tidak mampu menahan rasa haru dan syukur saya. Akhirnya saya bertemu dengan kakak sepupu yang selama ini hanya ada dalam impian. Terima kasih Pak Dubes, terima kasih staf KBRI yang mengusahakan pertemuan ini," ujar Dadoes sambil berlinang airmata.
Dadoes bertutur, selama puluhan tahun dirinya hanya sering mendengar cerita keluarga kakak bapaknya, Prof. Dr. Intoyo yang tidak pernah pulang ke tanah air sejak kepergiannya ke Uni Soviet pada tahun 1956. Waktu itu, almarhum Intoyo yang menjadi penasehat Presiden ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk mengajar Bahasa Indonesia di Moscow Institute of International Relations. Ia kemudian “tidak bisa†kembali ke Indonesia karena terhalang pertikaian politik bilateral akibat percaturan Perang Dingin di tingkat global. "Kami selalu dekat dalam hati saja," imbuhnya.
Memang, sampai kematian menjemput Intoyo pada tahun 1971 dan bahkan sampai sekarang, entah mengapa mereka tidak pernah kembali ke Indonesia. Bisa jadi banyak masalah teknis yang menghambatnya meski saat ini secara politis sudah tidak ada kendala. Karena itu, Nyonya Intoyolah satu-satunya harapan pertemuan puncak antara Dadoes dan keluarga Intoyo yang telah menjadi warga Rusia tersebut.
Dubes RI Moskow sempat berujar, sejak kedatangannya di Moskow 2,5 tahun yang lalu, ia telah berusaha keras untuk melakukan pendekatan terhadap para eks mahasiswa ikatan dinas (Eks Mahid) yang semuanya telah menjadi warga Rusia. Upayanya ini terus dilakukan antara lain dalam bentuk mempertemuan banyak keluarga yang telah terpisah oleh sekat-sekat politik Perang Dingin. Sebelum ini, eks Mahid Dr. Soekirno misalnya, dipertemukan dengan keluarganya di Jakarta.
"Harus diakui, Profesor Intoyo punya jasa bagi Indonesia. Kita harus tetap memberikan penghormatan kepada almarhum dan keluarganya yang saat ini di Rusia dalam berbagai bentuk. Dan saya ikut bahagia bahwa hari ini ada kehangatan reuni keluarga," ujar Dubes Hamid Awaludin saat itu.
Terbelahnya keluarga akibat politik memang peristiwa yang sangat luar biasa. Bukan main-main, meskipun bukan barang baru. Profesor Intoyo dan Dr. Soekirno hanyalah sebagian dari sekian banyak anak bangsa yang apes akibat pertikaian politik global dan domestik. Terimbas dampak dari sebuah Perang Dingin yang menjalar ke tanah Nusantara. Sebuah perang yang akhirnya dianggap tidak ada gunanya. Tanpa guna.
Sebagaimana diketahui, pada tahun 1950-1960-an, ribuan anak muda dikirim oleh Pemerintah Indonesia ataupun secara sukarela berbondong-bondong belajar di negeri beruang merah. Maklumlah, pada era tersebut, Uni Soviet adalah salah satu negara super power dan memiliki hubungan mesra dengan Indonesia sehingga meraup beasiswa USSR sangat mudah. Seperti membeli kacang goreng saja.
Tidak pelak, kota Moskow di bagian tengah barat hingga Vladivostok yang berada di bagian paling timur Soviet, dihiasi oleh ratusan mahasiswa Indonesia. Ke semua kota besar kita pergi saat itu, dijamin akan bertemu dengan warga Indonesia yang sedang menuntut ilmu pengetahuan. Nama Soekarno berkibar dimana-mana. .
Tidak hanya itu, banyak jurusan Indonesia di universitas Rusia mulai dibuka. Setidaknya terdapat satu di Universitas Negeri St. Petersburg, tiga di kota Moskow dan satu lagi di Universitas Timur Jauh di Vladivostok. Bahkan, siaran radio nasional berbahasa Indonesia juga bisa berkumandang secara rutin.
Memang waktu itu, Indonesia dalam batas-batas tertentu bisa dikatakan berada pada sebuah garis yang sejajar dengan Uni Soviet dan berhadapan dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Presiden Soekarno dengan jelas menunjukkan keberpihakannya pada negeri beruang merah yang dianggapnya lebih pro kepada rakyat dibandingkan dengan blok Barat yang disebutnya sebagai neo kolonialis.
Sikap pemerintah itulah yang rupanya menjadi magnet bagi banyak orang, entah itu yang mengetahui tentang politik atau yang buta sama sekali, untuk mendatangi negeri yang sedang berakrabria dengan Pemerintah Indonesia. Ada yang mencari ilmu, ada yang berpolitik dan ada juga yang berdagang. Semua berjalan demikian intensif dan tidak ada kekhawatiran apapun.
Perubahan pemerintahan Indonesia dari Orde Lama ke Orde Baru lah yang menjadikan petaka bagi mereka yang sedang berada di Uni Soviet. Orde Baru yang membabat konsep Orde Lama pada saat yang sama juga menyungkurkan banyak sekali anak bangsa. Ada yang harus menikmati dinginnya ruangan di balik terali besi karena mendukung faham yang berseberangan dengan penguasa. Atau paspor dicabut manakala enggan pulang untuk diinterograsi. Saat itu, istilah "bersih lingkungan" menjadi demikian populer untuk menjunjukkan bahwa seseorang tidak terkait dengan Orde Lama atau jaringan komunis.
Keadaan yang demikian akut itulah yang menjadi pangkal masalah bagi masyarakat Indonesia yang berada di Uni Soviet. Banyak yang pulang hampa tangan tanpa ijazah sekedar untuk menunjukkan dirinya "bersih lingkungan". Mereka yang benar-benar berhaluan Orde Lama tidak sedikit yang meminta suaka politik dan menjadi warga negara Soviet. Adapun sebagian yang tetap ingin belajar dan enggan pulang, merelakan dirinya menjadi
stateless. Ada pula yang kemudian lari terbirit-birit ke beberapa negeri Barat untuk mencari hidup yang lebih baik.
Mereka yang waktu itu berada di negeri beruang merah, benar-benar kocar kacir. Takut kembali ke Indonesia sekaligus tidak merasa nyaman di negeri orang. Mereka merindukan tanah air dan keluarga namun tersekat oleh tebalnya tembok yang namanya Perang Dingin. Di sisi lain, studi yang mereka lakukan menjadi tidak fokus. Banyak yang terbengkelai dan berhenti di tengah jalan. Beberapa diantaranya tetap tekun belajar hingga menjadi doktor dan profesor lalu mengabdi kepada Uni Soviet dan Rusia.
Salah satu yang terberat yang dihadapi oleh mereka yang kemudian disebut eks Mahasiswa Ikatan Dinas (Eks Mahid), adalah kepedihan hatinya yang terpisahkan dengan keluarga dan tanah airnya tanpa suatu alasan yang jelas. Bahkan, eksistensinya sebagai warga negara dinafikan dengan pencabutan paspornya sehingga dirinya seperti layang-layang yang putus talinya.Terbang melayang entah kemana.
Sakit hati itu bisa dimaklumi mengingat apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang saat itu tidak dianggap melanggar aturan. Sesuatu yang malah direstui dan didorong oleh pemerintah saat itu. Mereka menimba ilmu pengetahuan untuk dipersembahkan kepada nusa dan bangsanya. Meski ada juga diantaranya datang karena adanya kedekatan ideologi, namun lagi-lagi, ideologi tersebut bukan barang terlarang saat itu.
Selama Orde Baru, korban-korban ini banyak yang "bergentayangan" ke berbagai sudut dunia. Di Soviet, Eropa Barat bahkan Amerika Latin. Kawin dengan orang setempat dan beranak pinak sampai saat ini. Banyak diantara mereka bahkan dalam keadaan hidup yang sangat sederhana, papa, kekurangan sehingga tidak pernah bisa untuk pulang ke Indonesia meskipun jaman sudah berubah.
Yang jelas, hati mereka menangis setiap hari meratapi sebuah kenyataan yang sangat pahit dirasakan. Terlunta-lunta di negeri orang dan terus menghadapi kesulitan besar tanpa pernah tahu sebabnya. Hanya karena perubahan sebuah rejim pemerintahan semata. Hanya karena munculnya sebuah rejim yang akhirnya tumbang juga.
Kepedihan hatinya tetap saja muncul di hari tua seperti saat ini. Mereka yang rata-rata sudah berusia 70an tahun tersebut sangat jarang yang berani untuk pindah warga negara Indonesia lagi. Maklum, tunjangan pensiun biasanya sulit ditransfer manakala yang bersangkutan pindah warga negara. Semua ini hanya menambah rasa sesak di dalam dada.
Di sisi lain, negeri ini telah kehilangan sebuah kesempatan emas memanfaatkan warga terbaiknya untuk memajukan masyarakat. Hukuman yang ditimpakan kepada para professor dan doktor tersebut pada galibnya merupakan sebuah kebijakan anti kemajuan. Sebuah kesia-siaan yang tanpa makna. Inilah sebuah keapesan akibat sebuah ambisi politik. Sesuatu yang tidak boleh berulang lagi di masa datang.
Panteslah kalau kemudian Richard Armour bilang bahwa politik itu hanya perduli kanan dan kiri, tetapi tidak perduli soal salah dan benar. Atau malah seperti yang diungkapkan Nikita Khrushchev:
"Politician are the same all over. They promise to build a bridge even where there is no river".(Penulis adalah WNI yang tinggal di Rusia, [email protected])