FROM MOSCOW WITH LOVE (6)

Di Balik Mangkok Nabi

Oleh M. Aji Surya

Senin, 03 Oktober 2011, 07:33 WIB
Di Balik Mangkok Nabi
aji surya
"HAI Rasulullah, Khadijah baru saja tiba dengan membawa sebuah mangkok untukmu. Ketika ia datang, ucapkanlah salam damai dari Tuhan dan aku. Dan sampaikan juga kabar baik tentang adanya istana permata di sebuah taman dimana didalamnya tidak ada keriuhan dan kelelahan."

Konon, kalimat-kalimat tersebut merupakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan disampaikan langsung oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Hadist inilah yang, antara lain, membuat ribuan masyarakat muslim Grozny, ibukota Chechnya, Rusia, gempar dan riuh rendah pada tanggal 22 September 2011 yang lalu.

Siang itu, di bandara ibukota tanah panas Chechnya, sebuah pesawat jet warna putih mendarat dengan mulus. Ditingkahi oleh angin sejuk menjelang musim gugur, karpet merah nan bersih digelar dan pasukan kehormatan berdiri berbaris tegap hingga tangga pesawat. Para pejabat tinggi dan pemimpin masyarakat juga ngeriung dekat jet eksklusif itu.

Sementara, di ujung karpet, sebuah mobil convertible Rolls-Royce telah meraung-raung dengan suaranya yang khas. Puluhan mobil mewah berwarna hitam lainnya siaga mengiringi sambil penumpangnya bersiap mengibar-ngibarkan bendera. Semua dalam kondisi penuh penantian.

Begitu pimpinan dan Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov, muncul di pintu pesawat dengan baju lengan panjang warna biru terang dan tutup kepala warna hitam, tepuk tangan dan pekikan Allahu Akbar menggelegar. Dengan wajah sangat cerah penuh kebanggaan, pria bongsor berbadan tegap ini turun tangga pesawat membawa kotak kehitaman ukuran sekitar 25 Cm. Ketika sampai di tanah, juru kamera dari berbagai televisi segera membidikkan senjatanya untuk mengabadikan momen sangat langka ini.

Sepanjang perjalanan menuju masjid jami' kota Grozny, ribuan anggota masyarakat mengelu-elukan barisan mobil mewah yang dipimpin Ramzan Kadyrov. Lambaian tangan dan bahkan tangisan terdengar. Sementara, Ramzan duduk sumringah di buntut mobil Rolls-Royce bak terbuka sambil terus mengangkat-angkat kotak warna hitam.

Sesampainya di masjid yang diresmikan pada tahun 2008 tersebut, rombongan disambut dengan tarian yang bernafaskan sufi, setengah berlari dan berputar-putar. Disini ratusan orang juga telah berkumpul untuk menyaksikan sesuatu yang istimewa. Mereka bertepuk tangan meriah saat Ramzan Kadyrov lewat disampingnya.

Dan, saat yang paling ditunggu-tunggu itupun tiba juga. Disaksikan seorang mufti setempat serta dibawah sorotan puluhan lampu blitz, Ramzan membuka kotak hitam dan mengangkat isinya. Sebuah mangkok ukuran sedang, lebih besar sedikit dari kepalan orang dewasa --sepertinya terbuat dari kristal dan bertatahkan garis tebal warna keemasan-- dicium beberapa pemimpin setempat sambil menangis tersedu-sedu. Sontak, pekikan Tuhan Maha Besar menggema dari semua penjuru.

Sangat mudah ditebak, mereka yang hadir di masjid jami' itu tengah terbawa dalam sebuah luapan emosi religi yang amat sangat tinggi. Kedatangan mangkok ini bisa jadi diterjemahkan dengan kedatangan Nabi Muhammad. Seolah, almarhum Rasulullah, pimpinan umat Islam yang selama ini menjadi imam dan panutan itu berada di tengah-tengah mereka. Terjelma dalam sebuah mangkok yang pernah dipakai sang Nabi.

Ciuman terhadap mangkok, adalah ciuman kepada sang pemimpin. Tarian sufi bagaikan nyanyian kaum Anshar pada saat kedatangan kaum Muhajirin dari Makkah. Sebuah kemenangan diluapkan dan kebahagiaan diungkapkan. Penuh keharuan dan tangisan.

Jika benar bahwa barang tersebut adalah mangkok yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad, maka pastilah memiliki nilai yang sangat tinggi. Mempunyai nilai historis yang luar biasa di mata orang Islam. Berharga jutaan dolar bagi seorang kolektor. Dan kemungkinan besar dibeli oleh Ramzan Kadyrov dengan uang yang tidak sedikit.

Ramzan sendiri hanya mengatakan bahwa untuk mendapatkan mangkok tersebut, ia memerlukan usaha yang tidak sedikit. Perlu waktu cukup panjang. Selain mangkok, diterima juga dua buah karpet penutup makam Nabi untuk waktu yang sangat lama. "Peninggalan ini, kini dan sampai kapanpun akan berada di Republik kita dan tetap dimiliki oleh semua orang Islam di dunia," katanya.

Menurut cerita yang diungkapkan ke media massa, mangkok dimaksud telah berumur lebih dari 1400 tahun, dibuktikan secara ilmiah dengan adanya surat keterangan keasliannya. Bisa jadi, inilah salah satu peninggalan dan warisan besar Nabi Muhammad seperti halnya pedang bercabang dua yang dikenal dengan nama Zul Faqqar.

Mangkok ini, dalam riwayat, merupakan hadiah dari istri Nabi, Siti Khadijah, dan menjadi salah satu alat minum yang dipakai Rasulullah. Sepeninggal Nabi, mangkok tersebut dirawat dan disimpan sang keponakan, Khalifah Ali bin Ali Thalib, hingga akhir hayatnya.

Setelah itu, mangkok bersejarah disimpan oleh Fatimah, anak perempuan Nabi, kemudian lari ke Hasan dan Hussein, anak Fatimah dan cucu Rasul. Lebih lanjut, mangkok tersebut berpindah-pindah tangan ke beberapa generasi dan keturunan.

Di suatu masa, keturunan nabi dikejar-kejar oleh kelompok ekstrim, mereka terpaksa keluar dari kota Makkah dan Madinah sambil membawa mangkok tersebut. Dan terakhir, sebelum menuju tanah Chechnya, mangkok Nabi itu berada di tangan di salah seorang warga di Inggris.

Kini, Ramzan Kadyrov yang kabarnya menjadi pemilik baru mangkok nabi ini mengikrarkan bahwa peralatan minum itu telah menemukan tempat akhirnya. Dan mulai tanggal 22 September 2011 dan sampai kapanpun akan berada di tanah Chechnya. Akan disimpan di dalam masjid jami' dan hanya dikeluarkan untuk publik pada saat peringatan kelahiran sang Nabi. Bagi yang beruntung, bisa minum dari air yang dituang dari mangkok ini.

Di balik Mangkok

Yang unik, kedatangan barang ini telah membuat rakyat Republik yang berpenduduk nyaris 100 persen muslim tersebut, seolah terhanyut dalam sebuah hari kemenangan, the great day. Ribuan mahasiswa, siswa sekolah dan masyarakat umum menyemut dari airport hingga masjid agung di tengah kota. Semua mengelu-elukan sebuah mangkok. Di zaman seperti sekarang, ternyata masih banyak orang bisa terharu-biru oleh sebuah benda kuno. Menangisi barang mati.

Tapi, kalau ditengok dari sisi historis, luapan emosi warga setempat itu bisa dipahami. Bukan hanya sebuah kerinduan antara umat dan Nabinya, tapi bisa jadi merupakan keterikatan "keluarga" antara "cucu" dan "kakeknya". Keterikatan emosional tersebut berbeda jauh dengan umat Islam Indonesia dengan Nabi Muhammad SAW.

Islam masuk Rusia jauh lebih awal dari masuknya di Indonesia. Kota pertama yang disinggahi syiar Islam di Rusia pada tahun 637 adalah Derbent, hanya sekitar 5 jam kendaraan darat dari Grozny, ibukota Chechnya. Daerah ini dikuasai oleh pasukan Islam selama ratusan tahun sehingga hampir semua warganya memeluk agama Islam.

Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, Khalifah Umar telah mengirim seorang sahabat nabi yang bernama Suraqat bin Amr ke Derbent pada tahun 22 Hijriyah atau abad 7 Masehi. Selain itu, terdapat pula nama terkenal Salman bin Rabi' dan Abdurrahman bin Rabi' yang juga meninggal di Derbent. Salman waktu itu sempat menjadi komandan pasukan, sedangkan Abdurrahman bertanggungjawab urusan logistik pasukan.

Setelah Suraqat sebagai penguasa setempat meninggal dunia, maka tampuk kepemimpinan segera dipegang oleh Salman. Begitu pula ketika Salman menghadap sang Maha Esa, digantikan oleh saudaranya Abdurrahman. Ada juga nama tabiin yang konon sempat bertandang ke Derbent. Dialah Huzaifah bin Yaman yang kemudian kembali ke tanah Arab setelah menyelesaikan peperangan. Bukan hanya itu, kabarnya Salman al-Farisi dan Abu Hurairah juga sempat mampir di daerah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Rusia tersebut.

Di tempat itu, sampai kini masih terdapat kuburan 30-an sahabat Nabi Muhammad. Letaknya persis di atas bukit dan hanya dipagari dengan tembok setinggi dua setengah meter. Makam yang ditandai dengan nisan-nisan batu memanjang tersebut menjadi kebanggan warga meskipun tidak terlihat adanya pemujaan.

Yang juga menjadi lain dari di Indonesia, diantara yang dikubur tersebut ditengarai masih memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad yang kemudian memberikan keturunan yang silsilahnya masih bisa disisir sampai sekarang. Jadilah di sekitar tempat tersebut, terdapat beberapa orang yang mengaku dan dipercaya masyarakat sebagai "cicit" Nabi Muhammad.

Karena faktor-fakor diatas juga, masyarakat Islam di wilayah Rusia Selatan ini sangat terkenal dengan keimanannya yang amat kuat. Meskipun terbelenggu lebih dari 70 tahun di masa kejayaan komunis, mereka tetap terjalin dalam sebuah ukhuwah Islamiyah yang tinggi. Aliran sufi seperti Naqsyabandiyah dan Qodiriyah menjadi media perekat dan dakwah bawah tanah.

Sayangnya, jeda selama masa komunis telah menyebabkan pengetahuan Islam mereka kurang berkembang dibanding negara berpenduduk Islam lainnya, termasuk Indonesia. Karenanya, tidak mengherankan bila masyarakat Islam wilayah tersebut, dalam batas-batas tertentu, mirip dengan umat Islam Indonesia pada era tahun 1960-1970.

Terlepas hal tersebut, dapatkah dibayangkan apa yang terjadi manakala mangkok Nabi itu dibawa ke Indonesia oleh salah seorang pemimpin kita. Aneka isu pasti akan bersliweran. Antara lain, banyak orang akan senang karena alat minum nabi bisa jadi perekat umat. Ada yang mencari tahu dan menginvestigasi bagaimana mangkok berharga bisa sampai ke Indonesia. Terakhir, ada tuduhan pimpinan tersebut mencari popularitas.

Dalam ajaran agama, semua perbuatan berpangkal dari niat, dan output yang akan mengemuka sangat tergantung niat tersebut. Sayang memang, tak ada seorangpun yang mampu membaca niat orang lain. Sampai kapanpun, niat adalah rahasia Tuhan. Karenanya, sampai terbukti sebaliknya, lebih baik kita berbaik sangka. Termasuk husnu dzon kepada Ramzan Kadyrov. [***]

(Penulis adalah diplomat Indonesia pada KBRI Moskwa, [email protected])

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA