Pada Minggu siangnya, Tim Polri sudah melakukan olah tempat kejadian perkara dan yang dibantu Tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (INAFIS) dan Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Hal itu dikatakan Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen Musaddeq Ishak, dalam konfensi pers di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, hari ini ini.
Tak sampai disitu, pada pagi harinya, Senin 07.30 jenazah pelaku sudah tiba di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur guna melakukan otopsi. Setelah melakukan proses identifikasi, Polri memastikan pelaku bom bunuh diri itu adalah Fino Damayanto alias Ahmad Urif, alias Ahmad Yosefa Hayat, alias Raharjo, kelahiran Cirebon pada 19 Oktober 1980.
Kepastian ini didapat setelah Polri melakukan otopsi terhadap jenazah. Dalam otopsi itu, Polri menemukan ada indikasi medis, dimana pelaku pernah melakukan operasi hernia dan itu dibenarkan keluarga.
Tak hanya itu Polri juga mendapatkan 15 titik kesamaan sidik jari dengan pembanding yang ada di SIM pelaku dan ijazah pelaku. Begitu juga ditemukan adanya kesamaan DNA pelaku dengan istrinya Sifria Yosefa dan anaknya berumur 4 tahun, Humairoh Naila Husna.
Selain tes DNA, dan sidik jari, kepastian bahwa pelaku ada Hayat juga didapat dari giginya. Pihak keluarga mengakui bahwa itu adalah Hayat setelah melihat struktur gigi sang bomber. Data-data ini, kata Brigjen Musaddeq semakin menguatkan pernyataan beberapa saksi yang ditahan Polri, bahwa pelaku adalah Hayat.
[zul]