Kondisi ini juga diperparah oleh tidak adanya kepastian hukum. Akhirnya, berbagai kasus besar seperti kasus
bailout Bank Century dan mafia pajak Gayus Tambunan belum juga menemui titik terang. Akibatnya, investasi di dalam negeri otomatis akan terganggu.
Sebelumnya, kebijakan untuk bergabung dalam perdagangan bebas Asean-Cina juga menimbulkan permasalahan yang lebih rumit. Sektor perdagangan dalam negeri menjadi lemah akibat gempuran produk-produk luar negeri terutama dari Cina. Sementara Indonesia hanya mampu mengekspor sedikit komoditas seperti batubara.
Di luar itu, kenaikan tarif dasar listrik untuk sektor industri juga ikut memperburuk kondisi Indonesia.
"Hal ini menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri manufakur telah melakukan efisiensi perusahaan untuk menghadapi naiknya biaya produksi. Akibatnya, beberapa perusahaan terpaksa melakukan PHK massal untuk mengurangi beban produksi tersebut," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Kamis (13/1).
Menurut Syahganda, berbagai persoalan di atas, akhirnya membuat pemerintah kehilangan konsentrasi merealisasikan kebijakan nasional yang pro rakyat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2010 yang mencapai enam persen, ternyata belum mampu menyelesaikan penyakit kronis negeri ini, yakni kemiskinan dan pengangguran.
Dengan kata lain, komitmen pemerintah yang tertuang dalam
pro-growth, pro-job, dan
pro-poor masih sebatas jargon belaka. Artinya, kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan ternyata belum fokus dijalankan pemerintah.
"Anehnya, pemerintah belum mengambil langkah bagaimana agar masyarakat dapat menikmati hasil kekayaan sumber daya alam Indonesia. Pemeritah seolah tidak mau tahu warganya yang terkatung-katung," tukas dia.
Padahal, kata Syahganda, dengan modal kekayaan alam yang melimpah, Indonesia sejatinya harus mampu menyejahterakan masyarakatnya sekaligus sanggup bersaing dalam pasar global. "Bahkan, kita memiliki potensi menjadi
emerging market," tambah dia.
[zul]
BERITA TERKAIT: