RMOL. Pemerintah selama ini dinilai lebih banyak berakrobat dalam menunjukkan prestasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
"Angka itu semestinya dijadikan pemerintah cukup sebagai indikator pembangunan saja, dan tidak menggunakan angka sebagai justifikasi politik pencitraan seolah berhasil dan sudah melakukan pembangunan secara maksimal. Karena yang harus segera dilakukan adalah menyejahterakan rakyat itu yang paling penting, ini yang jadi oreantasi pembangunan sesungguhnya," tegas Dahnil.
Contoh lain bahwa pemerintah sangat suka menggunakan angka untuk menunjukkan keberhasilan, bisa dilihat dari cara pemerintah yang terus mengumbar keberhasilan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada akhir perdagangan yang ditutup pada posisi 3.699,22. Karena dengan hasil ini, IHSG Bursa Efek Indonesia menjadi kinerja terbaik tahun 2010 , dibandingkan dengan indeks-indeks saham lain di kawasan Asia Pasifik.
"Semua yang disampaikan dengan mengagungkan angka-angka makro ekonomi itu tidak pernah dirasakan masyarakat. Karena itu kan hot money," tandasnya. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: