Namun, Juru Bicara Partai Golkar Ruhut Sitompul tidak mau ambil pusing dengan kritik dua petinggi partai koalisi itu.
"Bicara partai, saya hanya memegang ucapan Ketua Umum. Dan kalau di PKS, saya pegang Dewan Syuro, Ustad Hilmi, (bukan Presiden PKS dan Sekjen PKS). Karena kan kalau mereka itu yang ditunjuk," ujar Ruhut kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 28/12).
Karena itu dia menilai, kritik yang disampaikan Anis Matta menunujukkan itu adalah masalah pribadi Anis Matta di partainya. Bukan PKS dengan Setgab SBY.
"Ini masalah pribadi. Pertama, Anis Matta. Bayangkan sudah tiga kali ganti presiden (PKS), dia terus jadi Sekjen. Dia tidak bisa jadi menteri. Artinya, Anis Matta itu frustasi berat. Karena itu persoalan pribadi jangan di bawa ke dalam Setgab," tutur Ruhut.
"Romi [panggilan Romahurmuzy] apalagi. Dia merasa orang lama di PPP, tapi tidak dapat kursi menteri. Tahunya menteri perumahannya dikasih ke Suharfa (Monoarfa). Sedangkan dia merasa senior. Jadi ini masalah pribadi lama. Jujur saja yang paling ngotot mendesak
reshuffle kan (partai) setgab juga. Mencerminkan kalau di-
resfhulle mereka jadi menteri, kan begitu," tambah Ruhut.
Ruhut mengaku semua orang tentu ingin jadi menteri, termasuk dirinya sendiri. Tapi, dia menyarankan, sebaiknya setiap orang harus mengacara diri pantas tidak jadi menteri. "Jadi harus ngaca diri dulu. Artinya, kalau bicara Setgab, tetap harmonis, karena kita pegang ketua umumnya," tandas Ruhut.
[zul]