"Saya dapat telepon dan SMS, saya ditanyai macam-macam, berapa banyak dapat proyek dari pemerintah, apa-apa," ujar Ichlasul kepada saat dihubungi
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 16/12).
Kepada orang yang menanyakan itu, Ichlasul Amal menegaskan, bahwa dirinya saat ini adalah seorang begawan yang sehari-hari mengajar di kampus. Jadi tidak punya proyek sama sekali. "Nggak ada yang kasih uang sama saya. Kalau ada yang kasih, ya mau juga," katanya sambil tertawa.
Dia sendiri tidak menyesalkan atas apa yang ia sampaikan itu. Karena dia mengatakan itu berdasarkan dari pengalamannya pada masa Partai Komunis Indonesia dulu, saat dia masih duduk di bangku kuliah. "Itu Cuman pengalaman saya, yang membuat
fait accompli itu yang saya tidak setuju," tegas dia.
Namun, dia sedikit menyesalkan atas pembuatan judul dari dari berita tentang pernyataannya itu. Menurutnya, judul itu lah yang semakin membuat orang terasa tersakiti.
"Saya tidak menyesal. Tapi judulnya itu yang banyak menyakitkan orang, ha ha ha. Apalagi ditulis mantan Rektor UGM. Kalau mantan Ketua Dewan Pers nggak apa-apa," katanya lagi sambil sambil tertawa.
Sebelum diwawancarai pada Senin malam lalu, dia mengatakan sempat bertanya kenapa dirinya yang dipilih untuk mengomentari peristiwa itu. Dia akhirnya mau memberikan pendapat, setelah wartawan mengatakan, dia merupakan orang yang netral dalam masalah Jogjakarta.
[zul]