Melihat aksi di Jogja, keduanya sama-sama teringat dengan aksi massa Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965 meski dalam konteks yang berbeda.
Ruhut teringat dengan aksi tari-tari genjer di Halim Perdanakusumah sedangkan Ichlasul Amal teringat dengan aksi massa yang dimobilisasi PKI di Jogja yang menentang kebijakan keraton pada waktu itu.
"Oh ya, dia (Ichlasul Amal) ngomomg gitu. Memang Ruhut ini pantas jadi profesor doktor ini," ujar Ruhut kepada
Rakyat Merdeka Online kemarin pagi.
Sesaat ditanyakan hal tersebut, Ruhut balik mempertanyakan Ichlasul Amal mengajar di kampus mana. Saat diberi tahu dari Univeristas Gajah Mada, Ruhut semakin bangga. "Oh ya, UGM pula lagi. Sama pemikiran kami berdua, meski memang beda-beda tipis," ucap dia.
Kasus ini bagi Ruhut merupakan momentum yang kedua dimana pemikirannya hampir sama dengan orang besar lainnya. Dia mengingatkan, pada saat dia memuji kinerja Sri Mulyani pada saat menjabat Menteri Keuangan.
"Setelah saya puji, lihat nggak, Sri Mulyani langsung diangkat menjadi orang nomor dua di Bank Dunia. Ini menunjukkan pemikiran Ruhut sama dengan pemikiran orang-orang Amerika itu. Jadi rujukan Ruhut ini," katanya dengan bangga.
[zul]