Mestinya, untuk sementara, jabatan ketua umum dirangkap Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
"Mereka (Demokrat) pikir (Angelina Sondakh) bisa mengadem-ademkan orang Jogja. Tadi (kemarin) saya dapat informasi dari Jogja orang tambah marah malahan. Dalam pandangan saya ini kurang pas. Dalam situasi begini, mengapa tidak dirangkap sajalah oleh ketua umumnya. Nanti baru ketua umumnya menunjuk siapa di Musda. Apalagi ketua umum (Anas) mantunya orang Jogja," ujar orang dekat Prabukusumo, Sasmito Hadinagoro.
Sasmito yang dihubungi
Rakyat Merdeka Online kemarin ini mengaku sebenarnya tidak berkompeten mengomentari soal Partai Demokrat. Meski begitu dia tetap memberikan penilain. Dia melihat ada kemungkinan lain dibalik penjukkan Angelina Sondakh itu untuk situasi Jogja saat ini.
"(Dengan penunjukkan Angelina ini), mungkin Tuhan membuat situasi itu jadi lebih panas. Jadi orang Jogja merasa terhina. Makanya, kalau 22 Desember nanti pas waktu Musda, ada orang ramai-ramai kembalikin KTA (kartu tanda anggota) dalam tas kresek hitam di-
uncal-kan (dilemparkan) ke ketuanya, jangan kaget," tebaknya.
Sekjen Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia ini mengaku tidak sedang memprovokasi. Tapi dia menduga hal itu akan terjadi.
"Ini bukan saya provokasi. Saya mempunyai dugaan. Orang Jawa itu jangan dikira-kira kalau sudah nggeh-nggeh, lalu diam. Orang Jawa itu kalau sudah diinjak itu marahnya lebih marah dari Batak," dalih Sasmito.
Bukankan kebijakan Rancangan Undang Undang Keistimewaan Jogjakarta direstui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan orang Jawa juga?"Saya tidak mengatakan Pak SBY membuat masalah. Tapi
inner circle-nya Pak SBY bukan orang Jawa. Ada orang Palembang, Padang, orang Makassar, maaf ya saya bukan membuat dikotomi ya," katanya lagi.
[zul]