Karena, dia keluar dari partai yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono itu hanya karena 'keistimewaan' Jogja diganggu. Padahal, banyak yang pihak yang menilai SBY gagal dalam menyejahterakan rakyat Indonesia selama memimpin. Tapi itu tidak dijadikan alasan oleh Prabukusumo untuk mengundurkan diri.
"Karena (persoalan-persoalan) itu tidak menyangkut harga diri mereka. Kalau bagaimana Sultan itu dihinakan, bagaimana gubernur itu dipilih, itu kan harga diri," ujar pengamat politik Iberamsyah kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 9/12).
Karena itu, guru besar ilmu politik Universitas Indonesia ini berkesimpulan, bahwa adik Sultan itu masih berfikir feodal dan memberontak hanya karena kepentingan kelompoknya 'diganggu'. "Mau tidak mau, kan mereka itu masih berfikir kelompok, karena mereka kan masih feodal. Kalau dari sisi feodal jujur saja, masyarakat Jogja itu masih feodal," tegas dia.
[zul]
BERITA TERKAIT: