Salah seorang penganut aliran aboge, Samsidi mengatakan penanggalan jatuhnya Hari Raya Idul Adha aliran aboge memang berbeda dengan umat Islam kebanyakan di Tanah Air. Sebab, mereka memakai penanggalan Jawa kuno.
"Tapi dasarnya sama, rembulan (qomariyah). Cuma kami juga memakai aturan-aturan hari Jawa, seperti perhitungan dina (lima harian) yang terdiri dari hari Pon, kliwon, wage, legi, dan pahing," katanya.
Menurut dia, jatuhnya sebuah hari besar juga ditentukan oleh baik tidaknya hari tersebut. Aliran aboge menganggap Kamis Kliwon tanggal 10 bulan Dzulhijjah sebagai jatuhnya Hari Raya Idul Adha. "Selain hitungan hari baik, Dzulhijjah kali ini jatuh pada mangsa kalima (kelima)," jelasnya.
Kendati hanya dilakukan oleh puluhan orang saja, Idul Adha aliran aboge di Karangtawang terlihat meriah. Mereka juga melakukan ibadah dengan menyembelih hewan kurban.
Informasi yang diperoleh
Rakyat Merdeka Online, aliran aboge di Wringinharjo, Cilacap dan Ajibarang, Banyumas juga melaksanakan Shalat Idul Adha pada Kamis ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: