Sebagian kalangan menduga fakta itu menunjukkan adanya konflik di tingkat elit Polri pasca Timur jadi Kapolri. Bahkan, Indonesia Police Watch menegaskan Kabareskrim Ito Sumardi telah melakukan pembusukan terhadap Jenderal Timur lewat pengungkapan keluar masuknya Gayus itu.
Kepada
Rakyat Merdeka Online petang ini, Komjen Ito mengakui bahwa dirinya yang langsung mengadakan inspeksi mendadak ke Rutan Mako Brimob Kelapa Dua.
Pada saat itu, dia tidak menemukan Gayus Tambunan. Namun, dia membantah, pengungkapan itu karena adanya konflik internal di elit Polri.
"Ah itu nggak benar. Kasus ini kan bisa terjadi, karena memang kita sulit mengawasi sampai ke bawah. Kaitannya apa dengan konflik masalah internal Polri. Nggak nyambung dong," kata Ito balik mempertanyakan (Sabtu, 13/11).
Kalau memang tidak ada kaitannya, kenapa Rutan baru diungkap sekarang ini, sedangkan Gayus sudah keluar masuk sejak Juli lalu?"Bukan terungkap. Ya namanya kalau orang pertama kali (keluar-masuk) tidak ketahuan, lama lama baru ketahuan. Memang dianya (Gayus) lagi sudah..., mungkin merasa aman, (lalu) dia ceroboh, baru ketahuan. Satu kejahatan tidak bisa sekaligus (diungkap). Kecuali tertangkap tangan," jawabnya.
Untuk menguatkan pernyataannya bahwa tidak ada konflik dan trik dibalik pengungkapan Gayus itu, Komjen Ito menegaskan, sebelum melakukan sidak, Kapolri sendiri yang justru memerintahkannya untuk melakukan hal tersebut.
[zul]