MBAH MARIDJAN WAFAT (3)

Bahaya, Jika Wedus Gembel Menyatu di Merbabu

Catatan Wartawan Senior Rakyat Merdeka, Cak Irwan Hadisuwarno

Kamis, 28 Oktober 2010, 11:33 WIB
Bahaya, Jika Wedus Gembel Menyatu di Merbabu
mbah maridjan/ist
MENINGGALKAN Stabelan, mata masih sepet, tubuh menggigil oleh dingin, saya bergerak ke utara. Lereng Utara ini, tergolong tempat yang nyaman untuk melepas letih. Ada seorang kawan menunggu di Ngaglik, Selo, kota yang indah lima kilo dari puncak Merapi.

Tapi nanti dulu, jalan dari Stabelan, yang harus saya lalui tidak mudah. Ini memang jalan pintas, melewati bukit-bukit yang penuh kubangan. Sama sekali, ini daerah yang aman. Wedus Gembel hampir tidak tertarik meluncur ke arah utara. Nah, jalan-jalan yang bercekung-cekung dalam itu, buatan manusia. Gunung itu digugur, digempur, digusur, dikeruk pasirnya. Atau batu-batunya.

Pagi mulai menghangat. Hanya sayang, bekas gempuran bukit itu membuat debu. Juga, pemandangan yang seram. Lihatlah. Sepanjang jalan, hanya jurang-jurang yang ganas.

Ke Selo, jika menempuh jalan dari Magelang, tentu saja lebih mudah. Aspal halus, plus pemandangan alam yang melebihi indahnya jalur elok di Puncak (Jawa Barat). Jadinya, baru dua jam perjalanan, saya sampai di rumah seorang kawan. Edan. Pagi-pagi, dengan dingin yang segar, Merapi tampak sangat cantik dari sini.

Awan tipis, mengempuli puncak yang kusam. Ada dua runcingan di puncak itu. Katanya, bekas letusan dahsyat yang membuat pucuk gunung terbelah. Jelas, dari Selo (kira-kira enam jam dari arah Gunung Merbabu), tidak mungkin berburu Wedus Gembel. Ini daerah aman. Kenapa disebut Selo, karena keamanannya itu. Selo dalam bahasa Jawa adalah celah, di sini memang cekungan atau celah-celah antara Merapi dan Merbabu.

“Dugi umur kulo 70 tahun, nembe sepindah kenging jeblukan Merapi. Ningu sampung 50 tahun kepengker. Mriki aman, jalaran dipun jangkung dening Eyang Kebo Kanigoro. Petilasanipun, wonten ninggil meniko.” Kakek-kakek bercerita begitu saja, waktu saya duduk di pinggir jalan aspal halus (penghubung Magelang-Boyolali) memandangi Merapi yang sedang indah-indahnya.

Kata kakek itu, Selo tidak pernah kena muntahan lahar merapi. Hanya sekali, itupun terjadi 50 tahun silam. Kenapa? Sebab, Selo dilindungi oleh Eyang Kebo Kanigoro, seorang sakti yang makamnya, ada di atas (kira-kira dua kilo meter dari tempat kami ngobrol, pagi-pagi itu).

Saya masih memandangi Merapi. Juga kakek itu. Kalimatnya mengejutkan, setelah agak lama terdiam. Katanya, belum lama ini, Wedus Gembel melintas di atas Selo. Bergerak ke Merbabu. Ada keyakinan, jika awan panas itu bergerak ke Merbabu, dan menyatu dengan awan di Gunung Merbabu, itu tanda-tanda genting. Benarkah? Tiba-tiba saja, saya berdebaran.(bersambung)

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA