Pernyataan ini terlontar saat Letjen (purn) Romulo Simbolon didapuk berbicara mewakili angkatannya dalam acara Halal Bihalal Purnawirawan TNI Angkatan Darat lulusan Akabri tahun 1973, di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin. Hadir sejumlah purnawirawan seperti mantan Pangdam Jaya Letjen Romulus Simbolon, mantan Kepala Sandi Negara Mayjen Nachrowi Ramli dan beberapa perwira tinggi militer aktif lainnya.
Romulo yang juga koordinator acara mengungkapkan, bahwa ada sejumlah purnawirawan yang baru-baru ini bermanuver politik dengan membawa-bawa nama persatuan purnawirawan. Hal ini dinilainya sangat memprihatinkan, tidak patut, dan menyakiti para purnawirawan lainnya. Terlebih lagi purnawirawan yang lain juga tidak pernah diajak bicara untuk melakukan manuver politik itu.
"Senior dan junior di TNI banyak cerita pada saya. Mereka menanyakan apakah betul itu sikap purnawirawan dan apakah saya juga pernah diajak bicara soal manuver itu," singgung Romulo.
Meski diakuinya sebagai purnawirawan memang berhak untuk berpolitik. Namun, sebaiknya hal itu tidak mengatasnamakan organisasi, korps atau embel-embel masa lalu.
"Jangan memecah belah persatuan purnawirawan karena kepentingan politik tertentu.
Please, jaga organisasi kita supaya tidak terbelah-belah," tegasnya.
Seperti diketahui, baru-baru ini Forum Komunikasi Purnawirawan TNI dan Polri atau Foko yang diketuai oleh Try Sutrisno menyampaikan keprihatinannya atas kondisi bangsa saat ini ke Ketua MPR Taufik Kiemas. Try Soetrsino menyatakan, negara saat ini berjalan tanpa tujuan. Libido kekuasaan meningkat dan kemiskinan makin meningkat. Try Soetrisno juga menyatakan, sangat mungkin MPR melakukan
impeach kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, Romulus buru-buru membantah jika apa yang disampaikannya itu menunjuk pada tindakan Try Sutrisno.
"Saya tidak menunjuk orang per orang tapi saya prihatin dan mengingatkan kepada internal untuk tetap menjaga persatuan. Secara personal purnawirawan berhak berpolitik, tapi dalam organisasi harus memikirkan dampaknya. Jangan sampai karena satu orang muncul friksi kerukunan," imbau dia.
Romulo juga mengatakan, apa yang diungkapkannya ini merupakan introspeksi saja. "Kita punya komitmen bahwa kita tidak boleh membawa korps ke area politik. Itu tidak berhak dan tidak patut karena kita tidak pernah diajak bicara," tandasnya
Dalam kesempatan itu, Romulo juga menyampaikan permohonan maaf dari Presiden SBY dan Ani Yudhoyono karena berhalangan hadir.
"(Tapi) Pak SBY dan Ibu Ani titip salam. Mohon Maaf Lahir Batin," ungkap Romulus kepada wartawan.
Sementara mantan Kasad Jenderal (purn) Ryamizard Ryacudu dan Jenderal (purn) Prabowo Subianto yang juga turut diundang tidak tampak diantara para tamu. Saat ditanyakan, Romulo mengatakan kedua purnawirawan jenderal tersebut tidak memberi keterangan apa-apa.
"Kami sudah menyampaikan undangan secara lisan dan ketok ular, namun keduanya tidak datang," terang Romulo.
[wid]