Sebaliknya, para menteri sebaiknya memposisikan Gurubesar Ilmu Psikologi di UIN Jakarta itu sebagai orang tua yang sedang memberi nasihat.
"Pak Mubarok inikan sesepuh Partai Demokrat. Kami tentu terbuka terhadap pemikirannya dan itu akan memacu kinerja pemerintahan. Saya melihatnya dari segi positif, anggap saja ini sebagai pemacu adrenalin atau pecutan untuk bekerja lebih baik. Bukan menakut-nakuti atau intimidasi. Saya mengimbau jadikan itu sebagai nasihat dari orang tua. Tidak ada manfaatnya kalau dilihat dari segi negatif," ujar Ketua DPP PKS Mustafa Kamal kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 13/9).
Mustafa yang juga ketua Fraksi PKS ini sudah biasa mendengar pernyataan Ahmad Mubarok terkait dengan akan adanya
reshuffle kabinet. Dari itu, PKS tidak yakin apa yang disampaikan Mubarok itu bakal jadi pertimbangan SBY dalam merombak kabinet.
"Ini tidak merupakan gaya politik SBY. SBY itu tidak mau didikte oleh orang lain apalagi oleh anak buahnya dari Partai Demokrat. Beliau sangat mandiri. Makanya kita ambil hikmah nya saja," sebutnya lagi.
Apakah dengan demikian pernyataan Mubarok ini sebaiknya diacuhkan saja?
"Kami sudah hafal langgap politik beliau (Ahmad Mubarok). Bahkan sudah hafal luar kepala, sudah ada tidak yang aneh lagi. Makanya, anggap saja nasihet orang tua. Jadi cukup didengar," cetusnya.
[zul]