"Ini lagi-lagi Kapolri yang ada sekarang ini telah menunjukkan kelemahannya dan ketidakwibawaannya. Ini kan acara institusi, sertijab, masa tiba-tiba menghilang tanpa alasan. Lucunya, sore Kastorius Sinaga (staf ahli Kapolri) mengatakan sakit. Tapi dibantah Kadiv Humas (Irjen Edward Aritonang)," ujar penasehat Indonesia Police Watch (IPW) Johnson Panjaitan kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Minggu, 15/8).
Menurut Johnson ketidakjelasan keberadaan Jenderal BHD pada Jumat lalu semakin meyakinkan bahwa bahwa TB-1 satu itu harus segera diganti. Karena setidaknya, dalam waktu yang hampir bersamaan Jenderal BHD telah melakukan dua kesalahan fatal. Pertama, melakukan kebohongan publik terkait dengan keberadaan rekaman antara Ary Muladi dan Deputi Bidang Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ade Rahardja.
"Kedua, jelas dia telah melakukan kehilangan publik, tidak jelas kemana dia. Kapolri harus menjelaskan kepada publik soal ini. Tak cukup hanya mewakilkan pada Kadiv Humas apalagi staf ahli. Kecuali dia orang kaya juga swasta, barulah bisa nyewa PR (
public relation) untuk menjelaskannya," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: