Makanya, banyak yang melihat, Presiden SBY seolah berkerja sendiri dalam menanggapi isu-isu yang menjadi keluhan publik. Sementara Boediono, cenderung defensif.
"Saya kira Pak SBY sudah menyadari karakter Pak Boediono yang menurut Anas (Ketua Umum Demokrat) tempatnya di kamar kerja bukan kamar publik. Makanya saya heran kenapa memilih Boediono. Karena karakter keduanya terlalu berhati-hati dan penuh dengan pertimbangan," ujar pengamat politik Burhanuddin Muhtadi kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 10/8).
Menurut Burhan, semestinya pada saat pemilihan presiden lalu, SBY memilih Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Keduanya saling melengkapi karena memliki karakter yang berbeda. Ibaratnya, SBY sebagai pedal yang mengeres, sedangkan JK laksana gas yang progressif.
"Jadi kita tidak bisa salahkan Pak Boediono. Salah Pak SBY sendiri kenapa memilih Pak Boediono. Dan kita tidak bisa memaksakan Pak Boediono untuk keluar dari karakternya. Dalam soal ekonomi, Pak Boediono sukses. Seperti meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Tapi yang menyangkut kebutuhan ril, memang belum," tandasnya.
[zul]