Mestinya, di saat upaya dialog antarperadaban dan antaragama digelar secara intensif belakangan ini hal itu tidak terjadi.
"Kami menyangkan, kenapa cara-cara yang buruk seperti itu dilakukan di tengah dunia yang saat ini menggelar dialog antarperadaban, antaragama, lintas agama. Harusnya digelar dengan cara-cara yang beradab," ujar Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat dihubungi
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 5/8).
Meski demikian, Haedar meminta umat Islam tidak terpancing dengan aksi tersebut. Bila umat Islam bereaksi dengan cara yang radikal, dia mengatakan, umat Islam dinilai tidak jauh beda dengan komunitas gereja tersebut. Dari itu, Haedar menyarankan umat Islam sebaiknya menyikapinya dengan cara-cara elegan-elegan.
"Kita harus melawannya dengan cara elegan. Misalnya, dengan cara menyuarakan aspirasi lewat tulisan atau dialog. Jangan menggunakan kekersan. Karena cara-cara seperti itu (pembakaran Al-Quran), tidak hanya dilawan umat Islam, tapi juga komunitas agama lainnya," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: