Di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, dua ruko berdiri begitu kalem. Pintunya tertutup, suasananya senyap, tidak ada spanduk promosi, tidak ada kasir tersenyum.
Kalau dilihat sepintas, paling-paling orang mengira gudang barang bekas atau usaha bangkrut sebelum sempat menghasilkan keuntungan. Ternyata, di balik pintu itu, ada dapur sedang memasak kiamat!
Rabu, 21 Oktober 2026, tim gabungan BNN, Bareskrim Polri, dan Bea Cukai membongkar laboratorium narkotika ilegal disebut sebagai terbesar di Indonesia. Dari sana, aparat menemukan 1,2 ton sabu cair! Sembilan warga Indonesia dan dua warga negara Tiongkok ditangkap. Kapasitas produksinya disebut mencapai 500 kilogram sabu dalam sekali proses.
Lima ratus kilogram sekali masak, wak! Ini bukan dapur katering untuk pesta pernikahan. Ini pabrik kapasitas produksinya bisa membuat satu kampung kehilangan masa depan apabila racunnya berhasil beredar. Kalau industri beras berlomba mengenyangkan perut, industri haram ini seperti sedang mengikuti olimpiade menghancurkan akal sehat.
Yang bikin bulu kuduk berdiri bukan cuma jumlahnya, melainkan tempatnya. Dua ruko itu baru disewa beberapa minggu. Warga sekitar, termasuk pedagang kelontong di sebelahnya, mengaku tidak mendengar suara aneh atau melihat aktivitas mencurigakan.
Semuanya tampak normal. Rupanya, kiamat modern tidak perlu datang dengan langit merah, petir menyambar, atau kuda terbang. Cukup menyewa ruko, menutup pintu, lalu memproduksi racun dalam skala industri.
Lokasinya berada di pinggir jalan provinsi Beureunuen–Kembang Tanjong. Di tanah Aceh dikenal religius dan keras terhadap narkoba, justru ditemukan laboratorium dengan kapasitas produksi mengerikan.
Ironinya seperti menampar wajah kita menggunakan karung berisi 1,2 ton sabu. Masyarakat menjalani kehidupan biasa, sementara di balik dinding tampak biasa, sebuah mesin penghancur generasi diduga sedang bekerja.
Jaringan diselidiki diduga melibatkan sindikat China, Malaysia, dan Indonesia. Ada mengkaitkannya dengan kawasan Golden Triangle di Myanmar, Laos, dan Thailand. Ini bukan lagi cerita pengedar kecil bersembunyi di gang sempit.
Ini dugaan jaringan lintas negara dengan produksi raksasa. Pidie seolah-olah hendak dijadikan dapur rahasia bagi industri bahan bakarnya adalah kehancuran manusia.
Pada 23 Oktober, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto datang langsung ke lokasi. Ruko kini dilingkari garis polisi, personel Brimob berjaga. Namun, garis polisi tidak otomatis mengakhiri cerita. Ia baru menutup satu pintu. Sementara pintu-pintu lain dalam jaringan itu masih harus ditemukan.
Pertanyaan terbesar justru belum terjawab, ke mana sabu cair tersebut akan diedarkan? Siapa pemodalnya? Siapa pemasoknya? Siapa menunggu keuntungan dari racun sebanyak itu? Sebelas orang ditangkap, tetapi jangan sampai yang tertangkap hanya para pekerja, sedangkan para pengendali tetap duduk nyaman menghitung uang.
Kita patut mengapresiasi pengungkapan ini. Namun, jangan puas hanya dengan konferensi pers dan angka fantastis. Sebab, jika dua ruko biasa mampu menyimpan dapur kiamat, berapa banyak ruko lain sekarang terlihat tidur, padahal mungkin sedang memasak masa depan bangsa menjadi racun?
Rosadi JamaniMantan wartawan
BERITA TERKAIT: