Haiti: Ketika Kekuasaan Menjadi Warisan Keluarga

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/agung-nugroho-5'>AGUNG NUGROHO*</a>
OLEH: AGUNG NUGROHO*
  • Sabtu, 17 Oktober 2026, 06:01 WIB
Haiti: Ketika Kekuasaan Menjadi Warisan Keluarga
Bendera Haiti. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
HAITI pernah berdiri sebagai simbol keberanian. Negeri yang dijuluki “Mutiara Karibia” itu mencatat sejarah besar: rakyatnya bangkit melawan perbudakan, merebut kemerdekaan, dan mengalahkan pasukan Napoleon. 

Namun, kemenangan atas penjajah tak serta-merta menjamin kebebasan. Bertahun-tahun kemudian, ancaman terhadap rakyat Haiti justru datang dari dalam negeri -- dari kekuasaan yang tumbuh semakin lama, semakin kuat, dan semakin sulit disentuh.

Pada 1957, François Duvalier, yang dikenal sebagai papa Doc, merebut kekuasaan. Pemerintahannya dibangun bukan hanya di atas jabatan, tetapi juga rasa takut. 

Polisi rahasia digunakan untuk membungkam perlawanan, sementara Papa Doc mengukuhkan dirinya sebagai presiden seumur hidup. 

Ketika seorang pemimpin tak lagi bisa diminta pertanggungjawaban, kekuasaan berhenti menjadi amanah. Ia berubah menjadi milik pribadi.

Tetapi, bagi Papa Doc, mempertahankan kekuasaan ternyata belum cukup. Ia juga menyiapkan penerus dari keluarganya sendiri. 

Jalan menuju pewarisan itu dibuka dengan mengubah aturan: batas usia minimum untuk menjadi presiden diturunkan dari 40 tahun menjadi 18 tahun. 

Perubahan konstitusi yang semestinya menjadi urusan besar sebuah bangsa itu diduga kuat disahkan melalui referendum yang direkayasa.

Pada 1971, setelah Papa Doc meninggal, putranya, Jean-Claude Duvalier -- atau Baby Doc -- naik menjadi pemimpin Haiti pada usia 19 tahun. 

Ia bukan muncul sebagai pilihan yang lahir dari persaingan politik yang sehat, melainkan sebagai pewaris sebuah dinasti. 

Jabatan tertinggi negara seolah menjadi barang keluarga: aturan disesuaikan, jalan dibukakan, lalu rakyat diminta menerima hasilnya.

Namun, mewarisi jabatan tidak sama dengan mewarisi kecakapan atau kepedulian. Saat Baby Doc menikmati mobil sport dan pesta, rakyat Haiti tetap berhadapan dengan kemiskinan dan kesengsaraan. 

Video ini juga mengangkat kisah memilukan tentang pusat plasma darah yang membeli darah warga dengan harga sangat murah untuk diekspor. Tubuh dan kebutuhan rakyat yang paling rentan pun seakan berubah menjadi komoditas.

Di tengah keadaan itu, kemewahan penguasa tampak bukan sekadar berlebihan -- melainkan menjadi penghinaan terhadap kenyataan hidup rakyat. 

Pernikahan Baby Doc yang disebut menelan biaya tiga juta dolar berlangsung di negeri ketika sekitar 75 persen penduduknya masih buta huruf. 

Satu pihak merayakan kekayaan dengan pesta besar; pihak lain bahkan belum memperoleh kesempatan dasar untuk belajar dan membangun masa depan.

Ketimpangan seperti itu tidak bisa selamanya ditutupi oleh kekuasaan dan rasa takut. 

Ribuan warga berusaha meninggalkan Haiti, sebagian menyeberang menuju Florida dengan kapal-kapal reyot. Pelarian itu bukan sekadar perjalanan mencari tempat yang lebih aman -- ia adalah gambaran tentang rakyat yang kehilangan harapan di tanahnya sendiri.

Pada 1986, gelombang protes akhirnya memaksa Baby Doc meninggalkan Haiti dan kabur ke Prancis. Ia disebut pergi dengan membawa kekayaan sekitar 120 juta dolar. 

Sementara rakyat menghadapi akibat dari pemerintahan yang panjang dan penuh penindasan, sang penguasa justru meninggalkan negeri itu bersama harta yang sangat besar.

Kisah Haiti memperlihatkan bahwa dinasti politik bukan hanya soal seorang anak menggantikan ayahnya. 

Bahayanya lebih dalam: aturan dapat dibengkokkan demi keluarga, negara dapat diperlakukan sebagai milik pribadi, dan penderitaan rakyat dapat dianggap sebagai harga yang pantas dibayar demi kelanggengan kekuasaan.

Sebuah bangsa tidak runtuh dalam satu hari. Ia terkikis sedikit demi sedikit—ketika ketakutan menggantikan kebebasan, ketika kemewahan penguasa tumbuh di tengah kemiskinan rakyat, dan ketika hukum berhenti menjadi pelindung bersama lalu berubah menjadi alat bagi segelintir orang.

Kekuasaan mungkin diwariskan. Konstitusi mungkin diubah. Namun, harga dari pemerintahan yang mengabaikan rakyat pada akhirnya harus ditanggung oleh seluruh bangsa. 

Sejarah Haiti bukan sekadar kisah masa lalu; ia adalah peringatan tentang apa yang bisa terjadi ketika kepentingan keluarga ditempatkan di atas masa depan negara.rmol news logo article

*Direktur Jakarta Institute
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA