Mengapa Eropa Bergolak?

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/agung-nugroho-5'>AGUNG NUGROHO*</a>
OLEH: AGUNG NUGROHO*
  • Senin, 26 Oktober 2026, 14:10 WIB
Mengapa Eropa Bergolak?
Kerusuhan di Prancis, Sabtu, 24 Oktober 2026 (Foto: X)
Kecil Besar
EROPA selama ini dikenal sebagai kawasan maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Banyak negaranya memiliki layanan kesehatan yang baik, perlindungan sosial yang kuat, dan sistem demokrasi yang mapan. 

Namun, gambaran tentang kehidupan yang serba nyaman itu kini mulai terusik. Di sejumlah negara, masyarakat turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pemerintah, menuntut kehidupan yang lebih layak, dan menyuarakan kekecewaan terhadap keadaan yang mereka hadapi.

Di balik demonstrasi dan kerusuhan itu, ada persoalan yang lebih dalam daripada sekadar kenaikan harga atau ketidakpuasan terhadap satu kebijakan. 

Banyak orang merasa sudah bekerja keras, mengenyam pendidikan, dan memenuhi kewajibannya sebagai warga negara, tetapi kehidupan mereka tidak kunjung membaik. Biaya hidup terus membebani, rumah semakin sulit dijangkau, sementara masa depan terasa makin tidak pasti.

Pada saat yang sama, ekonomi Eropa bergerak lambat, industri menghadapi persaingan ketat, dan ancaman keamanan akibat perang Rusia-Ukraina menambah beban pemerintah. 

Berbagai persoalan ini saling berkaitan dan memperbesar ketegangan sosial. Lantas, mengapa kawasan yang selama ini dianggap makmur dan stabil bisa menghadapi gejolak seperti ini?

Ekonomi Tumbuh Lambat, Biaya Hidup Tetap Tinggi

Pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan melambat dari sekitar 1,4 persen pada 2025 menjadi 1,1 persen pada 2026. Angka ini tidak berarti ekonomi Eropa sedang runtuh, tetapi menunjukkan bahwa pertumbuhannya masih terbatas. 

Di tengah pertumbuhan yang lemah, masyarakat juga harus menghadapi harga kebutuhan sehari-hari yang telanjur tinggi.

Kenaikan harga pangan, energi, transportasi, dan berbagai kebutuhan pokok telah menggerus daya beli rumah tangga. 

Masalahnya, ketika inflasi melambat, harga barang tidak otomatis kembali murah. Perlambatan inflasi hanya menunjukkan bahwa harga naik lebih lambat daripada sebelumnya. 

Jika harga sudah telanjur melonjak, masyarakat tetap harus membayar mahal, sementara pendapatan belum tentu meningkat sebanding.

Tekanan ini semakin berat karena industri Eropa menghadapi biaya energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat, persaingan global yang ketat, rantai pasok yang rentan, dan kekurangan tenaga kerja terampil. 

Perang Rusia-Ukraina sejak 2022 turut mengguncang pasokan energi dan menambah beban dunia usaha. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan Eropa dituntut bergerak cepat dalam bidang teknologi agar tidak tertinggal dari para pesaingnya.

Kecerdasan buatan dan teknologi digital menawarkan peluang untuk meningkatkan produktivitas. Namun, hasilnya bergantung pada kesiapan perusahaan, keterampilan pekerja, dan dukungan kebijakan. 

Tanpa pembaruan yang memadai, Eropa berisiko semakin sulit bersaing dan menciptakan pertumbuhan yang kuat.

Bagi masyarakat, persoalannya sederhana: pertumbuhan ekonomi tidak banyak berarti jika kehidupan sehari-hari justru terasa semakin berat. 

Ketika bekerja keras belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dan membangun masa depan, ketidakpuasan ekonomi dapat berkembang menjadi kekecewaan terhadap pemerintah.

Rumah Semakin Mahal, Masa Depan Anak Muda Semakin Jauh

Selain biaya hidup, perumahan menjadi sumber kegelisahan yang semakin besar. Di sejumlah kota Eropa, harga rumah dan biaya sewa meningkat hingga sulit dijangkau banyak warga. 

Rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal juga semakin sering diperlakukan sebagai aset investasi. 

Akibatnya, orang yang sudah memiliki properti bisa menikmati kenaikan nilainya, sementara calon pembeli semakin sulit mengejar harga pasar.

Generasi muda menghadapi dilema yang tidak sederhana. Mereka didorong untuk menempuh pendidikan tinggi, mencari pekerjaan, dan membangun karier. 

Namun, setelah semua itu dilakukan, memiliki tempat tinggal yang layak tetap menjadi persoalan besar. Pekerjaan tetap sekalipun tidak selalu cukup untuk menjamin kehidupan mandiri.

Keadaan ini menimbulkan pertanyaan yang menyakitkan: untuk apa belajar dan bekerja keras jika hasilnya belum tentu membuat seseorang mampu memiliki rumah atau membangun keluarga dengan tenang? 

Pertanyaan semacam ini bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan tanda bahwa harapan terhadap masa depan mulai melemah.

Masalah tersebut berkaitan erat dengan ketimpangan kekayaan. Pendapatan adalah uang yang diterima seseorang dari pekerjaan atau sumber lain, sedangkan kekayaan mencakup aset seperti rumah, tanah, dan investasi. 

Orang yang memiliki aset dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan nilainya, sementara mereka yang hanya mengandalkan upah harus terus mengejar harga kebutuhan yang semakin tinggi.

Jika keadaan ini berlangsung lama, kesenjangan antarkelompok dapat semakin lebar. Kekayaan lebih mudah bertambah bagi mereka yang sudah memilikinya, sedangkan kelompok yang belum memiliki aset semakin sulit mengejar ketertinggalan. 

Karena itu, krisis perumahan bukan sekadar masalah harga properti, tetapi juga menyangkut kesempatan untuk hidup mandiri dan memperoleh masa depan yang layak.

Ketika Kesulitan Hidup Berubah Menjadi Kemarahan Politik

Tidak semua orang yang mengalami kesulitan ekonomi akan turun ke jalan. Namun, tekanan hidup bisa berubah menjadi kemarahan politik ketika masyarakat merasa pemerintah tidak mendengar keluhan mereka. 

Situasinya semakin buruk jika kebijakan yang diambil dianggap lebih menguntungkan kelompok tertentu daripada masyarakat kebanyakan.

Masyarakat biasanya masih bisa menerima keadaan sulit jika mereka percaya bahwa pengorbanan dibagi secara adil dan ada jalan menuju perbaikan. 

Sebaliknya, kesabaran akan menipis ketika mereka diminta berhemat, sementara sebagian kelompok tetap menikmati keuntungan. Rasa tidak adil inilah yang sering membuat persoalan ekonomi semakin pelik.

Ketidakpuasan juga membesar ketika layanan publik memburuk, janji politik tidak terpenuhi, atau saluran pengaduan terasa tidak berguna. Jika warga merasa suaranya hanya didengar saat pemilihan umum, kepercayaan terhadap lembaga politik dapat terkikis. 

Pemerintah dan parlemen yang seharusnya menjadi tempat menyelesaikan masalah justru dipandang sebagai bagian dari masalah itu sendiri.

Kondisi seperti ini membuka peluang bagi kelompok populis dan politik ekstrem. Mereka menawarkan jawaban sederhana terhadap persoalan yang rumit, menyalahkan kelompok tertentu, atau menjanjikan perubahan cepat. 

Bagi orang yang merasa ditinggalkan, pesan seperti itu bisa terdengar menarik, meskipun solusi yang ditawarkan belum tentu mampu menyelesaikan akar persoalan.

Meski demikian, demonstrasi tidak boleh disamakan begitu saja dengan kerusuhan. Aksi damai, pemogokan, dan penyampaian kritik merupakan bagian dari kehidupan demokratis. 

Perusakan dan kekerasan harus dibedakan dari tuntutan masyarakat yang disampaikan secara sah. Tidak semua demonstran melakukan kekerasan dan tidak semua orang yang marah terhadap pemerintah mendukung kerusuhan.

Hal yang lebih penting adalah memahami mengapa begitu banyak orang merasa perlu turun ke jalan. Ketika keluhan terus menumpuk tanpa penyelesaian, jalanan bisa menjadi tempat terakhir bagi masyarakat untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan mereka dengan negara.

Gejolak Eropa Tidak Punya Satu Penyebab

Situasi di Eropa tidak bisa disamaratakan. Setiap negara memiliki persoalan ekonomi, sejarah politik, dan dinamika sosial yang berbeda. 

Namun, tekanan biaya hidup, masalah perumahan, kesulitan memperoleh pekerjaan, dan menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah muncul sebagai benang merah di berbagai tempat.

Di Prancis, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, daya beli, dan kondisi layanan publik telah lama menjadi bagian dari perdebatan politik. 

Tuntutan yang awalnya berkaitan dengan satu kebijakan dapat berkembang menjadi protes yang lebih luas ketika masyarakat merasa persoalan mereka tidak ditangani secara serius.

Di Italia, tekanan biaya energi, upah, dan terbatasnya pertumbuhan ekonomi menambah beban rumah tangga maupun dunia usaha. 

Di Portugal dan Spanyol, persoalan perumahan menjadi perhatian besar, terutama bagi kaum muda yang kesulitan mencari tempat tinggal dengan harga terjangkau. 

Di Belgia, persoalan upah, layanan publik, dan kebijakan pemerintah juga dapat memicu aksi sosial, meskipun tuntutan setiap kelompok tidak selalu sama.

Sementara itu, ketegangan politik di Albania perlu dilihat dalam konteks tersendiri, termasuk persoalan kepercayaan terhadap pemerintah dan tuduhan korupsi. 

Tidak tepat jika seluruh gejolak di negara itu hanya dijelaskan sebagai akibat kenaikan harga atau krisis perumahan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu cara untuk memahami semua gejolak Eropa. 

Namun, ada pola yang patut diperhatikan: tekanan ekonomi akan lebih mudah berubah menjadi konflik ketika masyarakat merasa kesempatan hidup semakin sempit, keputusan politik tidak berpihak kepada mereka, dan jalan untuk memperbaiki keadaan terasa tertutup.

Karena itu, laporan tentang demonstrasi dan kerusuhan perlu dibaca secara cermat. Jumlah peserta aksi tidak sama dengan jumlah orang yang terlibat dalam kekerasan. 

Peristiwa di beberapa kota juga tidak otomatis menggambarkan keadaan seluruh Eropa. Hal yang perlu dipahami adalah persoalan di balik setiap aksi dan sejauh mana pemerintah mampu meresponsnya.

Ancaman Rusia Menambah Beban Eropa

Ketika persoalan ekonomi dan sosial belum selesai, Eropa juga harus menghadapi tantangan keamanan. Perang Rusia-Ukraina tidak hanya menyangkut medan pertempuran. Dampaknya merembet ke pasokan energi, industri, anggaran pertahanan, dan hubungan politik antarnegara Eropa.

Selain ancaman perang konvensional, muncul kekhawatiran mengenai perang hibrida, yaitu upaya melemahkan lawan melalui berbagai cara tanpa harus melancarkan serangan militer terbuka. 

Bentuknya bisa berupa sabotase, serangan siber, penyebaran disinformasi, campur tangan dalam proses politik, atau tindakan intimidasi terhadap infrastruktur penting.

Sejumlah analis memperingatkan kemungkinan meningkatnya operasi semacam itu terhadap negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina. Namun, dugaan keterlibatan Rusia dalam setiap insiden harus dinilai berdasarkan bukti. 

Gangguan penerbangan, aktivitas pesawat nirawak, atau kerusakan infrastruktur tidak otomatis membuktikan bahwa suatu peristiwa merupakan operasi Rusia.

Terlepas dari siapa pelakunya dalam setiap kasus, ancaman terhadap infrastruktur penting dapat menimbulkan biaya besar dan mengganggu kehidupan masyarakat. 

Disinformasi juga berpotensi memperuncing perpecahan politik, terutama ketika kepercayaan publik terhadap pemerintah sudah melemah.

Tantangan lainnya adalah kebutuhan untuk meningkatkan belanja pertahanan. Pemerintah harus memastikan keamanan negara, tetapi pada saat yang sama tetap membiayai layanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan perlindungan sosial. Ketika anggaran terbatas, keputusan mengenai prioritas belanja bisa menjadi sumber perdebatan baru.

Eropa pun menghadapi dilema yang tidak mudah. Kawasan ini perlu memperkuat pertahanan untuk menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga harus menjaga agar kebutuhan masyarakat di dalam negeri tidak terabaikan. 

Jika persoalan kesejahteraan terus dibiarkan, ketidakpuasan domestik bisa semakin besar. Sebaliknya, jika perpecahan politik melemahkan kemampuan mengambil keputusan, ketahanan menghadapi ancaman eksternal juga dapat terganggu.

Dua Masalah Besar yang Saling Memperparah

Jika dilihat secara keseluruhan, Eropa sedang menghadapi dua persoalan besar yang saling memengaruhi. 

Pertama, persoalan ekonomi. Pertumbuhan yang terbatas, biaya energi yang tinggi, persaingan industri, dan lambatnya reformasi menghambat kemampuan kawasan ini untuk meningkatkan daya saing.

Kedua, persoalan sosial-politik. Biaya hidup, ketimpangan kekayaan, perumahan yang mahal, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi membuat masyarakat semakin gelisah. 

Ketika orang merasa masa depannya tidak pasti, dukungan terhadap kebijakan pemerintah dapat melemah dan perpecahan politik semakin tajam.

Keduanya bisa membentuk lingkaran yang sulit diputus. Ekonomi yang lemah membatasi kesempatan kerja dan ruang anggaran pemerintah. 

Tekanan sosial yang meningkat kemudian memicu konflik politik sehingga kebijakan jangka panjang semakin sulit dijalankan. Ketidakpastian politik, pada gilirannya, dapat menghambat investasi dan memperlambat pertumbuhan.

Ancaman keamanan dari luar membuat persoalan itu semakin rumit. Eropa harus memperkuat pertahanan, memulihkan daya saing, menjaga kesejahteraan, dan mempertahankan kepercayaan terhadap demokrasi dalam waktu bersamaan.

Karena itu, tantangan Eropa bukan sekadar mengembalikan ketertiban setelah demonstrasi. Tantangan sebenarnya adalah memperbaiki kondisi yang membuat masyarakat kehilangan keyakinan bahwa sistem yang ada masih mampu memberi mereka kehidupan yang layak.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Gejolak Eropa tidak berarti Indonesia pasti akan mengalami hal yang sama. Kondisi ekonomi, struktur sosial, dan sistem politik kedua kawasan berbeda. 

Namun, pengalaman Eropa memberikan pelajaran penting: pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik tidak cukup dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan.

Pertama, pertumbuhan ekonomi harus terasa dalam kehidupan sehari-hari. Angka pertumbuhan yang tinggi tidak banyak berarti bagi masyarakat jika harga pangan, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan perumahan terus meningkat lebih cepat daripada pendapatan. 

Kebijakan ekonomi perlu dinilai berdasarkan dampaknya terhadap daya beli dan kualitas hidup.

Kedua, perumahan layak harus menjadi kebutuhan yang diperjuangkan. Ketika harga tanah dan rumah semakin tidak terjangkau, pekerja dan generasi muda akan semakin sulit membangun kehidupan mandiri. 

Pembangunan perumahan perlu memperhatikan keterjangkauan harga, akses transportasi, fasilitas kesehatan, sekolah, dan kedekatan dengan tempat kerja.

Ketiga, ketimpangan kekayaan tidak boleh diabaikan. Pertumbuhan yang lebih banyak menguntungkan pemilik aset dapat memperlebar jarak antara kelompok yang memiliki modal dan masyarakat yang hidup dari upah. 

Pemerintah perlu memperluas akses terhadap pekerjaan layak, pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial, sekaligus memastikan bahwa beban pembangunan tidak ditanggung secara tidak adil oleh kelompok berpendapatan rendah.

Keempat, layanan publik menentukan kepercayaan kepada negara. Pelayanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan bantuan sosial bukan sekadar urusan administrasi. 

Layanan yang mudah diakses, bermutu, dan adil menunjukkan bahwa negara hadir dalam kehidupan warganya. Sebaliknya, pelayanan yang buruk dapat memperkuat perasaan bahwa masyarakat dibiarkan menghadapi kesulitannya sendiri.

Kelima, pemerintah harus mendengar keluhan sebelum berubah menjadi krisis. Demonstrasi dan kritik tidak selalu menjadi ancaman bagi negara. 

Dalam demokrasi, keduanya bisa menjadi cara untuk memperbaiki kebijakan. Yang berbahaya adalah ketika saluran pengaduan tidak berfungsi, kritik dianggap sebagai gangguan, dan masyarakat merasa hanya akan didengar setelah turun ke jalan.

Keenam, keamanan tidak bisa menggantikan keadilan sosial. Ketertiban memang penting, tetapi persoalan masyarakat tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan keamanan. 

Pemerintah perlu melindungi hak warga, membedakan aksi damai dari tindakan kekerasan, dan menangani pelanggaran secara proporsional. Pada saat yang sama, akar persoalan yang mendorong ketidakpuasan harus ditangani dengan sungguh-sungguh.

Pelajaran utamanya sederhana: stabilitas tidak hanya bergantung pada kemampuan negara mengendalikan keadaan, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat bahwa kebijakan publik dibuat untuk kepentingan bersama.

Kemakmuran Tanpa Keadilan Tidak Menjamin Stabilitas

Gejolak Eropa memperlihatkan bahwa kemajuan ekonomi, institusi demokrasi, dan sistem perlindungan sosial yang mapan tidak otomatis menjamin masyarakat selalu merasa sejahtera. 

Ketika biaya hidup meningkat, rumah semakin sulit dijangkau, kekayaan terkonsentrasi, dan kesempatan memperbaiki kehidupan menyempit, rasa aman sosial dapat terkikis bahkan di negara-negara maju.

Namun, kerusuhan bukanlah akibat yang pasti dari ketimpangan. Arah perkembangan masyarakat juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah mendengar tuntutan warga, memperbaiki kebijakan, menjaga ruang demokrasi, dan membagi beban ekonomi secara adil.

Demokrasi tidak cukup hanya menjamin pemilihan umum dan kebebasan menyampaikan pendapat. Demokrasi juga harus memberi alasan nyata bagi masyarakat untuk percaya bahwa suara mereka berpengaruh terhadap keputusan publik dan bahwa kerja keras masih membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Jika pemerintah hanya meminta masyarakat bersabar tanpa menghadirkan perbaikan yang dapat dirasakan, kepercayaan akan terus terkikis. 

Sebaliknya, ketika pembangunan menghasilkan pekerjaan layak, perumahan terjangkau, layanan publik bermutu, dan kesempatan yang lebih setara, ketegangan sosial memiliki peluang lebih besar untuk diselesaikan melalui mekanisme demokratis.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya, seberapa megah infrastrukturnya, atau seberapa kuat aparat keamanannya. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah rakyatnya dapat hidup layak, memiliki harapan, dan merasa diperlakukan secara adil.

Negara mungkin mampu memulihkan ketertiban setelah kerusuhan. Namun, tanpa keadilan sosial, layanan publik yang layak, dan kepercayaan rakyat, ketertiban itu hanya berpotensi menjadi jeda sebelum krisis berikutnya.rmol news logo article

*Direktur Jakarta Institute
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA