Data yang dikumpulkan tak hanya berupa keyword dalam mesin pencari tapi juga kecepatan mengetik, lokasi, waktu aktif, pola klik, dan kebiasaan browsing. Semua data ini dieksplorasi layaknya sebuah “tambang baru” dengan mesin pintar yang disebut Artificial intelligence (AI), yang bukan hanya berfungsi untuk mendorong konsumsi atau iklan tertarget tapi juga untuk mengeluarkan rekomendasi strategis dan mempengaruhi keputusan sosial-politik.
Melihat fenomena ini maka kebutuhan untuk adanya “pusat data” yang mampu menampung data yang dikumpulkan dalam skala raksasa menjadi kunci masa depan ekonomi dunia atau bahkan eksistensi umat manusia. Maka tak heran jika akhir-akhir ini sejumlah raksasa teknologi layaknya Google, Microsoft, Meta hingga Amazon mengeluarkan modal (capital expenditure/capex) yang digunakan untuk menciptakan pertahanan (moat) jangka panjang sekitar 90 persen lebih untuk belanja AI data center hyperscale. Amazon misalnya, di tahun 2025 saja menghabiskan sekitar 100-105 miliar Dolar AS untuk memperkuat AI cloud Amazon Web Services (AWS), sebuah platform komputasi data center andalan Amazon yang memimpin pangsa pasar infrastruktur cloud global.
Begitu juga dengan Microsoft, menghabiskan sekitar 80 miliar Dolar AS untuk membangun AI-enabled data centers dan cloud AI deployment, utamanya untuk memperkuat Azure AI. Tak kalah, Google juga menghabiskan sekitar 75 miliar Dolar AS untuk ekspansi data center guna memperkuat kinerja Gemini AI. Konsorsium OpenAI, Oracle dan SoftBank juga telah membangun data center terbesar di dunia dengan kapasitas 10-gigawatt yang dilaunching di Abilene, Texas yang menghabiskan dana sekitar 400-500 miliar Dolar AS. Dan trend pembangunan data center raksasa bukan hanya dilakukan oleh korporasi teknologi besar melainkan juga oleh sebuah negara dan institusi pemerintahan layaknya pemerintah Saudi Arabia yang membangun proyek hexagon data center dengan kapasitas sebesar 480-megawatt yang dibangun di area seluas lebih dari 2,8 juta meter persegi menjadi infrastruktur data center terbesar kategori government-owned data center.
Namun, pertumbuhan massif pembangunan data center bukan tak menemui sumbatan atau the bottlenecking, utamanya dalam rantai pasok material strategis yang menopang fondasi AI dan data center untuk tetap beroperasi dalam jangka panjang. Dan bottleneck dalam rantai pasok material strategis tak mudah untuk dipecahkan, apalagi jika material strategis tersebut tidak hanya berfungsi secara vital melainkan memiliki sifat-sifat alamiah yang tak tergantikan dengan material yang lain, atau jika digantikan akan menurunkan perfoma kinerja dari fungsi sebuah material dalam AI supply chain.
Production Plateau dan The Bootlenecking Supply Chain
Logam siprus alias tembaga kini masuk dalam daftar mineral kritis dalam Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Studi komprehensif S&P Global memproyeksikan lonjakan permintaan tembaga global dari 28 juta metrik ton pada tahun 2025 menjadi 42 juta metrik ton pada tahun 2040. Hal ini mengindikasikan permintaan tembaga global tumbuh sekitar 50 persen dalam 15 tahun. Permintaan tertinggi akan tembaga datang dari elektrifikasi dan power infrastructure, terutama smart grid, yang memakan 35-40 persen konsumsi tembaga global.
Hal ini sejalan dengan skenario dasar S&P Global, permintaan listrik global akan meningkat hampir 50 persen pada tahun 2040, dan diproyeksi akan terus meningkat significant sejalan dengan pertumbuhan data center dan AI yang semakin massif. Maka permintaan akan tembaga juga akan terus meningkat dalam jangka panjang.
Namun masalahnya, produksi tembaga global sulit tumbuh signifikan, terutama akibat tambang besar kian menua, semakin dalam dan semakin mahal dipertahankan. Ditambah pertumbuhan tambang baru sangat lambat yang menurut studi S&P Global menunjukan rata-rata pembangunan tambang baru membutuhkan waktu sekitar 15-20 tahun.
Secara kualitatif juga kian menurun, terutama kadar bijih (ore grade decline) tembaga kian menurun dimana kandungan tembaga dalam batuan makin rendah dari semula tambang besar bisa memiliki kadar bijih >1,5 persen copper grade menjadi hanya sekitar <0,6 persen copper grade. Inilah yang disebut sebagai plateau production dimana produksi telah memasuki fase puncak hingga stagnan bahkan mengalami trend penurunan dalam jangka panjang.
Artinya, produksi atau supply tak mampu memenuhi pertumbuhan demand yang tumbuh significant. Apalagi pertumbuhan permintaan tembaga untuk data center dan AI berbarengan dengan pertumbuhan demand dari kendaraan listrik (electric vehicle) maka wajar jika S&P Global memproyeksikan dunia akan mengalami kekurangan tembaga sekitar 10 juta ton pada 2035-2040. The International Energy Agency (IEA) dalam laporannya yang bertajuk The Global Critical Minerals Outlook 2025 menyebutkan bahwa produksi tembaga saat ini hanya mampu memasok sekitar 70 persen kebutuhan tembaga pada 2035. Padahal demand tembaga meningkat menjadi 42 juta ton pada 2040. Gap inilah yang akan menyebabkan harga tembaga dalam jangka panjang bakal terus meningkat. Karena pasar tembaga masuk ke dalam fase structural deficit.
Problemnya, peran tembaga terutama untuk power distribution data center tak bisa disubtitusi dengan logam yang lain. Peran tembaga dalam busbar, power distribution unit (PDU), uninterruptible power supply (UPS) dan rack power punya konduktivitas tinggi, tahan panas, fleksibel, bahkan tahan korosi. Upaya substitusi dengan alumunium punya dampak yang cukup merugikan terutama dalam konduktivitas yang lebih rendah, mudah panas dan mudah memuai yang berdampak pada biaya kabel harus lebih besar, koneksi lebih rumit, dan yang terpenting efisiensi daya menurun drastis.
Lebih khusus untuk data center, aluminium yang punya pasokan yang melimpah tidak cukup ideal untuk menahan besarnya daya listrik yang dibutuhkan untuk hyperscale infrastructure AI data center layaknya power distribution, cooling, dan transformator dimana untuk AI rack modern jumlah listrik yang dikonsumsi untuk per satu rack server AI saja sekitar 100–150 kW bahkan terdapat roadmap menuju >1 MW per rack. Misalnya, GPU milik Nvidia dengan tipe GB200 NVL72 saja membutuhkan sekitar 120–140 kW per rack. Sehingga densitas daya menjadi kunci efektivitas data center, karena pada faktanya data center sangat haus listrik.
Dan semua ini menciptakan kebutuhan struktural terhadap tembaga. Maka wajar jika sejumlah lembaga think-thank global memproyeksikan dunia akan mengalami copper supercycle, dimana dunia memasuki periode panjang kenaikan permintaan dan harga tembaga yang didorong oleh perubahan struktural besar ekonomi global. Diprediksi supercycle ini berlangsung bertahun-tahun bahkan dekade, karena dipicu transformasi fundamental, utamanya karena empat gelombang besar perubahan global muncul bersamaan; electric vehicle, renewable energy, smart-grid serta AI dan data center.
Posisi Indonesia Dalam Percaturan Geopolitik Tembaga
Jika kita berbicara rantai pasok tembaga, maka tak bisa dilepaskan dari peranan Chile sebagai “Saudi Arabia of Copper” yang menguasai 18-19 persen pangsa pasar tembaga global. Namun, Chile menghadapi sejumlah masalah struktural tembaga pada umumnya yakni penurunan kadar bijih tembaga di sejumlah tambang-tambang besar miliknya. Sedangkan Peru dan Republik Demokratik Kongo yang menguasai 9-10 persen pangsa pasar tembaga global, sejumlah tambang besar dan strategisnya dikuasai oleh investasi China.
Peru sebagai produsen tembaga terbesar kedua dunia, tambang terbesarnya; Las Bambas yang menyumbang sekitar 2 persen supply tembaga dunia, dikuasai oleh China Minmetals Corporation melalui MMG Limited. China Minmetals Corporation merupakan BUMN China yang mengakuisisi Las Bambas dari tangan Glencore, salah satu perusahaan pertambangan dan perdagangan komoditas sumber daya alam terbesar di dunia yang berkantor di Swiss.
Las Bambas inilah menjadi salah satu akuisisi tambang terbesar China di Amerika Latin dan menjadi jalur utama supply tembaga ke smelter China. Selain Las Bambas, perusahaan China; Aluminum Corporation of China (Chinalco) juga menguasai tambang tembaga Toromocho di Peru, salah satu tambang yang punya cadangan sangat besar dan dekat jalur Pasifik menuju Asia. Toromocho ini menjadi salah satu proyek tembaga luar negeri terbesar yang pernah dibangun perusahaan China
Begitu juga yang terjadi di Republik Demokratik Kongo, China Molybdenum Company Limited atau lebih dikenal CMOC Group Limited berhasil mengakuisisi Tenke Fungurume Mining (TFM), salah satu produsen tembaga dan kobalt terbesar di Republik Demokratik Kongo (DRC). CMOC Group mengakuisisi Tenke Fungurume Mining dari tangan Freeport-McMoRan pada 2016-2019. Akibat penguasaan China di Peru dan Kongo, S&P Global Market Intelligence menyebut bahwa kini China menguasai 15-20 persen produksi tambang tembaga global, dan menguasai sekitar 45-50 persen kapasitas refining tembaga dunia.
Praktis, tersisa Australia sebagai negara dengan cadangan tembaga terbesar yang bebas dari ekspansi penguasaan China. Dan Indonesia punya posisi yang istimewa di tengah percaturan geopolitik tembaga semacam ini. Pasalnya, Indonesia punya sejumlah tambang tembaga yang memiliki kadar bijih yang tinggi, cadangan melimpah, usia tambang relatif muda bahkan bisa dikatakan underdeveloped. Tambang Grasberg di Papua misalnya, punya cadangan tembaga yang sangat besar sekitar 2,8 miliar ton ore dengan kadar bijih salah satu tertinggi di dunia sekitar 1,09 persen Cu. Dan Grasberg punya kombinasi yang sangat langka di dunia yaitu gigantic size dengan high grade, yang membuatnya menjadi asset geopolitik yang sangat strategis. Sehingga wajar jika sejumlah lembaga think tank global menyebut Grasberg sebagai elite high-grade super giant deposit yang jadi penentu utama dalam copper supercycle.
Selain Grasberg, Indonesia punya Batu Hijau Mine dan Elang Project yang keduanya adalah bagian dari distrik giant porphyry copper-gold kelas dunia. Dan giant porphyry district copper-gold layaknya yang ada di Sumbawa kini makin langka dan makin berharga. Artinya Batu Hijau dan Elang bukan hanya punya cadangan besar dan grade tinggi, tapi punya geological moat dimana menemukan giant district yang ekonomis dan bisa berkembang puluhan tahun kini sangat sulit. Begitu juga dengan Tujuh Bukit project yang ada di Tumpang Pitu, Banyuwangi, yang bisa dibilang masih sangat underdeveloped, selain menjadi giant copper-gold system, yang menarik dari Tujuh Bukit adalah usia tambang relatif sangat muda, yang bisa dikategorikan sebagai giant emerging copper di dunia yang kini semakin langka yang juga bisa dikategorikan sebagai long-life asset.
Melihat data ini, kekuatan Indonesia bukan hanya punya cadangan yang besar melainkan punya “momentum” atau “timing” yang tepat, dimana dunia sedang mengalami supply deficit tembaga dan ore grade decline ditengah permintaan yang tumbuh secara struktural, Indonesia punya high-grade super giant deposit dan lebih penting; usia tambang relatif muda sehingga berpotensi jadi penopang produksi tembaga global dalam jangka panjang. Ini yang berpotensi menjadi geopolitical leverage di tengah potensi copper supercycle di masa depan. Tentunya, diharapkan Indonesia bukan hanya menjadi lahan pusat dan sumber eksplorasi bahan material semata, tapi juga harus menjadi copper industrial ecosystem seperti copper products terutama pengembangan industri electrical manufacturing, data center equipment dan AI infrastructure.
Tapi apapun itu, keberhasilan hilirisasi bukan sekedar masalah penguasaan teknis dan transfer teknologi, namun lebih dari itu, yakni kuncinya ada pada posisi politik negara yang harus lebih kuat dibanding sekelompok oligarki ekstraktif; segelintir elite kaya yang menguasai dan mempertahankan kekayaan mereka melalui eksploitasi sumber daya alam tanpa mau membangun inovasi produksi atau industrialisasi yang kompetitif. Sehingga Indonesia hanya sebatas mendapat manfaat dari rente sumber daya dalam jangka pendek dan gagal melakukan industrialisasi dalam jangka panjang.
Arjuna Putra Aldino
Direktur Eksekutif Geopolitics and Global Political Economy Studies (G2PES) Indonesia
BERITA TERKAIT: