Menurutnya, langkah ini merupakan wujud konkret pemerataan akses gizi agar manfaat program tidak hanya dinikmati masyarakat perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah dengan tantangan geografis tinggi.
“Saya mengapresiasi perhatian serius Sudaryono terhadap wilayah 3T. Ini langkah nyata untuk memastikan anak-anak di daerah terpencil memperoleh kesempatan yang sama dalam pemenuhan gizi, yang sangat esensial dalam kebijakan publik,” ujar Prof. Andy saat dihubungi pada Senin 19 Oktober 2026.
Ia menilai program MBG sebagai investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia untuk menekan angka stunting sejak usia dini.
“Program ini tidak cukup hanya mengejar jumlah penerima. Yang utama adalah memastikan anak-anak yang benar-benar membutuhkan, terutama di wilayah 3T, mendapatkan makanan bergizi,” tambahnya.
Selain perluasan jangkauan, Prof. Andy menyoroti pentingnya tata kelola dan integritas pengelola, termasuk kepatuhan terhadap standar keamanan pangan pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia mendukung langkah tegas Sudaryono yang menghentikan operasional dapur bermasalah demi melindungi kesehatan anak-anak.
“Dapur yang tidak memenuhi standar atau tidak amanah harus ditindak tegas. Kesehatan gizi anak-anak adalah hal yang tidak boleh ditawar,” tegasnya.
Ke depan, ia berharap perluasan wilayah 3T diiringi oleh konsistensi pengawasan, evaluasi berkala, serta koordinasi erat dengan pemerintah daerah.
"Dengan tata kelola yang baik, MBG diharapkan tidak hanya luas cakupannya, tetapi benar-benar efektif meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia," pungkas Prof. Andy.
BERITA TERKAIT: