Pengamat Dorong Dialog soal Panas Bumi dan Arah Wisata Bandungan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 17 Oktober 2026, 14:20 WIB
Pengamat Dorong Dialog soal Panas Bumi dan Arah Wisata Bandungan
Ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran dan pariwisata Bandungan, Kabupaten Semarang, tidak semestinya dipertentangkan. 

Keduanya dinilai berpeluang berjalan beriringan, asalkan direncanakan secara matang dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan, keberlanjutan destinasi, dan kepentingan ekonomi masyarakat.

Pengamat pariwisata sekaligus mantan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Bambang Mintosih, menegaskan bahwa kunci menyelaraskan kedua sektor tersebut terletak pada dialog terbuka, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta perencanaan pembangunan yang menyeluruh.

“Pengembangan panas bumi dan pariwisata perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan daerah yang lebih luas. Kehadiran sumber energi bersih dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan, sementara sektor pariwisata terus mengembangkan daya tarik dan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan karakteristik daerah. Kuncinya adalah membuka ruang dialog dan urun rembug bersama seluruh pemangku kepentingan,” kata Bambang, yang juga menjabat Dewan Penasihat PHRI Jawa Tengah, dalam keterangannya dikutip Sabtu 17 Oktober 2026.

Menurut Bambang, tantangan pariwisata Bandungan tidak cukup dijawab dengan mengandalkan keindahan alam. Kawasan ini perlu memperluas ragam atraksi, mendorong kreativitas masyarakat, dan memperkuat usaha lokal agar daya tarik wisata tetap berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Di sisi lain, rencana pengembangan panas bumi perlu dikomunikasikan secara transparan. Dengan begitu, potensi manfaat dan tantangan dapat dibahas sejak awal, termasuk dampaknya terhadap destinasi wisata, pelaku usaha, dan masyarakat di sekitar kawasan.

“Seluruh unsur ekosistem pariwisata perlu dilibatkan, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, komunitas, masyarakat, hingga pemerintah. Dialog ini penting untuk mengidentifikasi peluang, mengantisipasi tantangan, dan memastikan setiap upaya pembangunan memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujarnya.

Bambang melihat Bandungan dan sekitarnya memiliki peluang memperkuat daya saing melalui pengembangan wisata berbasis aktivitas dan kreativitas lokal. Salah satunya sport tourism, yang dapat menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi setempat melalui kegiatan olahraga, termasuk ajang lari.

Potensi lain datang dari kopi lokal yang dikembangkan generasi muda dan pelaku kreatif. Potensi ini dapat dikemas bersama wisata kuliner, wellness tourism, dan pengalaman wisata alternatif untuk memperluas pilihan pengunjung sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Karakter pariwisata akan selalu merepresentasikan keunikan daerahnya. Karena itu, penting untuk terus berinovasi dan menciptakan pengalaman baru tanpa mengabaikan kelestarian alam. Pengembangan energi dan pariwisata perlu dibicarakan secara konstruktif agar keduanya dapat ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Ia juga membuka peluang untuk mengkaji wisata edukasi yang berkaitan dengan energi dan lingkungan. Namun, pengembangan atraksi semacam itu harus didasarkan pada kelayakan teknis, standar keselamatan, dan ketentuan yang berlaku, bukan sekadar menjadikan keberadaan fasilitas energi sebagai daya tarik wisata.

Bambang menekankan, penyelarasan pengembangan panas bumi dan pariwisata membutuhkan kesamaan visi serta keterlibatan seluruh pihak. Dialog tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan yang jelas agar kepentingan lingkungan, pengembangan destinasi, dan kesejahteraan masyarakat mendapat perhatian secara proporsional.

“Yang perlu dibangun adalah kesamaan visi bahwa kemajuan daerah harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka, perencanaan yang matang, dan sinergi seluruh pihak, pengembangan energi panas bumi dan pariwisata dapat dibahas secara proporsional untuk mendukung keberlanjutan lingkungan serta memperkuat perekonomian lokal,” pungkasnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA