Begitu yang dikatakan oleh Wakil Presiden RI Maruf Amin ketika menghadiri
Launching dan Bedah Buku "Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama" karya Ahmad Baso yang digelar secara hybrid dari Hotel Radission, Bandar Lampung pada Rabu (22/12).
Maruf Amin yang merupakan bagian dari Mustasyar Pengurus Besar NU (PBNU) menjelaskan,
khittah merupakan platform yang sifatnya permanen dan menjadi landasan berpikir. Sementara
khutwah adalah langkah-langkah untuk mewujudkan
khittah.
"Menurut saya,
khittah Nahdlatul Ulama itu ya khittah nabawiyah, khittahnya para nabi, khittahnya ulama. Tidak ada sesuatu yang lain yang kami kehendaki kecuali
al-ishlahiyah, islah artinya melakukan perbaikan-perbaikan," jelasnya.
Nahdlatul Ulama, lanjut Maruf Amin, merupakan
jamiatul ishlahiyah atau organisasi perbaikan. Namun bukan hanya memperbaiki masalah-masalah keagamaan, tetapi juga kemasyarakatan.
"NU dinamakan gerakan ulama untuk memperbaiki umat, baik aspek keagamaannya maupun aspek kemasyarakatannya. Maka itu, saya katakan tidak ada kaitannya dengan kekuasaan," ucapnya.
Ia menegaskan, kekuasaan bukanlah
khittah dari NU. Kekuasaan merupakan
khutwah robbaniyah yang merupakan urusan Allah yang memberikannya.
"
Khutwah yang harus kita lakukan adalah
khutwah ishlahiyah, langkah-langkah berbaikan, bukan
khutwah untuk mengambil kekuasaan," pungkasnya.
Kehadiran mantan Rais Aam PBNU di Lampung sendiri memiliki agenda utama untuk menghadiri Muktamar ke-34 NU yang dibuka Rabu pagi.
Muktamar yang digelar hingga besok, Kamis (23/12), digelar di empat lokasi, yaitu Pondok Pesanteren Darussa'adah, UIN Raden Intan, Universitas Lampung, dan Universitas Malahayati.
Kiai Maruf Amin rencananya akan menutup Muktamar pada Jumat (24/12).
BERITA TERKAIT: