Kegiatan ini diikuti ribuan santri, jajaran pengurus pesantren, sivitas akademika, pengurus PBNU, dan para ulama. Sejak pagi, para peserta yang mengenakan pakaian khas santri bernuansa putih dan hitam memadati area lapangan.
Dalam amanatnya, Ketua Umum PBNU sekaligus inspektur apel, KH Abdul Hakim Mahfudz, menekankan pentingnya bagi santri untuk menjaga semangat persatuan dan komitmen kebangsaan demi kemajuan bangsa di era modern.
“Kita telah menghadapi banyak perubahan hingga hari ini, dan NU sebagai akar yang kuat harusnya mampu menjadi jembatan antara tradisi serta semangat perjuangan santri dulu dengan berbagai perubahan ini,” ujarnya.
Suasana berubah haru saat Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, memimpin doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi bangsa Indonesia. Doa tersebut diawali dengan pembacaan doa iftitah.
Secara keseluruhan rangkaian apel berlangsung khidmat. Suasana sakral terasa saat KH Irfan Yusuf, yang mewakili dzuriyah, membacakan teks Resolusi Jihad. Pembacaan tersebut menjadi pengingat atas maklumat bersejarah yang dicetuskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.
Acara ditutup dengan penampilan teater santri yang menyuguhkan aksi heroik perjuangan santri dalam peristiwa Resolusi Jihad. Setelah apel berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para tokoh dan tamu undangan.
BERITA TERKAIT: