Padahal pada saat yang sama kasus demam berdarah dengue (DBD) tergolong tinggi.
Kondisi ini terjadi salah satu faktornya karena merebaknya virus corona atau Covid-19 yang saat ini sudah ditetapkan pemerintah sebagai bencana non alam.
Hingga Rabu (18/3), stok darah golongan A di PMI Jepara tercatat untuk sel darah merah dan darah lengkap 12 kantong dan 3 kantong untuk trombosit.
Sedangkan golongan B sel darah merah dan darah lengkap 231 kantong, sedang trombosit 0. Golongan AB (70 dan 0). Golongan O tercatat sel darah merah dan darah lengkap 20 kantong serta 1 kantong trombosit.
Staf pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Jepara, Muhammad Iskak mengatakan, menipisnya stok darah ini sangat dipengaruhi oleh virus corona.
Kata dia, intensitas kegiatan donor darah berkurang drastis seiring merebaknya virus itu.
Terlebih saat ini pemerintah juga sudah mengeluarkan instruksi yang isinya membatasi berkumpulnya banyak orang dalam sebuah kegiatan.
"Saat ini yang paling kritis stok darah A dan O. Sejak Senin kemarin, kegiatan donor darah banyak yang dicancel seiring instruksi itu," kata Iskak, dilansir dari
Kantor Berita RMOLJateng, Rabu (18/3).
Kondisi ini dilematis. Saat ini angka kasus DBD di Jepara tergolong tinggi. Berdasar data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, pada Januari-Februari 2020, tercatat ada 104 kasus DBD, dengan satu korban meninggal dunia.
Kasus DBD ini diperkirakan akan kian melonjak terlebih saat musim hujan sporadis seperti sekarang ini.
Terkait persoalan ini, pihak PMI Jepara terpaksa memutar otak dan lebih pro aktif mencari darah.
Salah satu rencana yang akan dilakukan yakni dengan mengumpulkan Ketua Paguyuban Donor Darah di Jepara.
"Kami akan meminta mereka yang datang ke PMI Jepara. Tidak harus dalam jumlah besar. Secara bertahap yang penting stok darah aman," tandasnya.
BERITA TERKAIT: