Dalam praktiknya, cancel culture tidak hanya menyasar figur publik atau selebritas. Individu biasa, perusahaan, merek, hingga kelompok tertentu juga bisa menjadi sasaran penolakan massal.
Bentuknya beragam, mulai dari ajakan berhenti mengikuti akun media sosial, memboikot produk, hingga menarik dukungan terhadap karya seseorang. Istilah cancel culture pun kerap muncul dalam perdebatan di ruang digital.
Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk kontrol sosial untuk meminta pertanggungjawaban seseorang atas kesalahan yang dilakukan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai fenomena ini berpotensi berubah menjadi perundungan massal.
Lantas, apa itu cancel culture, bagaimana fenomena ini muncul, dan apa saja dampaknya?
Apa Itu Cancel Culture?
Secara harfiah, cancel culture dapat diartikan sebagai budaya membatalkan. Namun, istilah ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar membatalkan sesuatu.
Cancel culture merujuk pada perilaku memboikot, menolak, atau menghukum seseorang maupun kelompok karena tindakan yang dianggap salah atau bertentangan dengan norma masyarakat. Sementara itu, dalam konteks media sosial, cancel culture biasanya dilakukan secara kolektif oleh warganet.
Mereka menarik dukungan, menyampaikan kritik, atau mengajak orang lain berhenti memberikan perhatian kepada individu maupun merek yang dinilai melakukan pelanggaran. Sasaran cancel culture bisa berupa selebritas, influencer, perusahaan, merek dagang, hingga karya hiburan seperti film dan acara televisi.
Fenomena ini tidak selalu berhenti pada kritik. Dalam sejumlah kasus, orang yang menjadi sasaran cancel culture juga menghadapi hujatan, pengucilan, intimidasi, hingga penyebaran informasi pribadi di internet.
Penyebab Munculnya Cancel Culture
Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat cancel culture semakin mudah menyebar. Informasi mengenai tindakan atau pernyataan seseorang dapat tersebar dalam waktu singkat dan menjangkau jutaan pengguna.
Ada beberapa hal yang dapat memicu munculnya cancel culture, di antaranya:
1. Tindakan atau pernyataan kontroversial
Perilaku yang dianggap melanggar norma sosial, seperti diskriminasi, pelecehan, ujaran kebencian, atau tindakan tidak etis, dapat memicu kecaman publik. Ketika tindakan tersebut diketahui masyarakat luas, warganet bisa menyuarakan kritik sekaligus mengajak orang lain menarik dukungan terhadap pihak yang bersangkutan.
2. Penyebaran informasi di media sosial
Media sosial memungkinkan sebuah unggahan, video, atau tangkapan layar menyebar dengan cepat. Informasi yang awalnya hanya diketahui oleh kelompok kecil dapat berubah menjadi perbincangan publik setelah dibagikan berulang kali.
Kondisi tersebut membuat respons masyarakat terhadap suatu kontroversi bisa berkembang menjadi penolakan massal.
3. Solidaritas dan tekanan kelompok
Cancel culture juga dapat muncul ketika masyarakat merasa perlu membela pihak yang dirugikan oleh tindakan seseorang atau kelompok tertentu. Dukungan yang diberikan secara kolektif kemudian berkembang menjadi ajakan memboikot atau menghentikan dukungan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.
BERITA TERKAIT: