Lula Menang,Trump Sebut Pilpres Brasil Terlihat Curang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 27 Oktober 2026, 09:06 WIB
Lula Menang,Trump Sebut Pilpres Brasil Terlihat Curang
Lula Inacio da Silva saat mendeklarasikan kemenangan (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Forbes)
Kecil Besar
rmol news logo Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempersoalkan hasil pemilihan presiden Brasil yang kembali dimenangkan Luiz Inacio Lula da Silva. 

Berbicara kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Senin, 26 Oktober 2026, Trump menyebut pemilu tersebut terlihat seperti dicurangi, tetapi tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhannya.

“Sejujurnya, ini tampak seperti pemilu yang dicurangi lagi,” ujarnya, dikutip dari Politico, Selasa 27 Oktober 2026.

Trump menilai pemilu seharusnya menghasilkan keputusan yang tidak terbantahkan. 

“Pemilu harus tidak dapat disangkal, dan menurut saya ini terlihat sangat buruk,” ujarnya. 

Meski demikian, ia mengaku menyukai Lula dan tidak memastikan apakah Washington akan mengambil tindakan atas hasil pemilu tersebut.

“Saya tidak menjalankan Brasil, saya menjalankan AS,” kata Trump saat ditanya apakah pemerintahannya akan melakukan sesuatu terkait pemilihan tersebut.

Kemenangan Lula pada Minggu sekaligus menggagalkan upaya Flavio Bolsonaro, kandidat sayap kanan yang didukung kalangan gerakan MAGA Trump. Flavio merupakan putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, yang juga pernah mendapat dukungan terbuka dari Trump.

Flavio menolak menerima hasil pemilu dan meminta agar hasilnya dibatalkan. Ia mempersoalkan keputusan seorang hakim Mahkamah Agung Brasil yang memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam pada Minggu malam untuk mengatasi keterlambatan transportasi yang menghambat pemilih mendatangi tempat pemungutan suara.

Trump turut menyebut perpanjangan waktu tersebut sebagai sesuatu yang “sangat aneh”. Namun, laporan Reuters menyebut jumlah suara yang masuk selama perpanjangan waktu kurang dari 35.000, jauh di bawah selisih kemenangan Lula yang mencapai sekitar 4 juta suara. Partai Bolsonaro juga meminta pemungutan suara diperpanjang di sejumlah wilayah.

Sementara itu, para peneliti yang memantau pemilu di Amerika Latin menilai Brasil memiliki sistem pemilihan yang relatif aman. Perpanjangan waktu pemungutan suara juga dimungkinkan bagi kedua kubu karena cuaca buruk dan kendala transportasi menghambat sebagian pemilih menggunakan hak suaranya. Di Brasil, warga berusia di bawah 70 tahun diwajibkan mengikuti pemilu.

Kemenangan Lula menjadi pukulan bagi Trump yang selama ini berupaya memperkuat pengaruh politik AS di kawasan Amerika Latin. Lula tidak hanya menentang kebijakan tarif Washington, tetapi juga menjadikan pemilu sebagai pertaruhan untuk mempertahankan demokrasi dan kemandirian Brasil dalam menentukan arah politiknya.

Pada 2025, pemerintahan Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap Brasil untuk menekan pemerintah di Brasília agar menghentikan proses hukum terhadap Jair Bolsonaro. Mantan presiden tersebut diselidiki atas dugaan keterlibatan dalam upaya kudeta yang gagal setelah pemilu 2022. Namun, kebijakan tarif itu justru membantu memperkuat posisi politik Lula sebelum ketegangan kedua negara mereda untuk sementara waktu.

Sejumlah tokoh pendukung Trump kini kembali mendesak Washington mengambil sikap keras terhadap Brasil. Steve Bannon, mantan penasihat Trump, meminta presiden dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio memutus hubungan diplomatik dengan Brasil serta menghentikan seluruh kerja sama. Meski demikian, seorang pejabat Brasil menyatakan keyakinannya bahwa AS pada akhirnya akan mengakui kemenangan Lula, mengingat besarnya selisih suara yang sulit dibantah.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA