Kemenangan ini sekaligus membalikkan keadaan setelah Lula sempat tertinggal pada putaran pertama.
Berdasarkan hasil resmi Mahkamah Pemilihan Umum Brasil (TSE) yang dikutip dari France24, Lula mengamankan 51,76 persen suara, mengungguli Flavio Bolsonaro yang meraup 48,24 persen.
Hasil ketat ini berbalik dari pemungutan suara putaran pertama pada 4 Oktober 2026 lalu, di mana Flavio sempat memimpin dengan perolehan sekitar 47 persen suara, sementara Lula tertinggal di angka 45,16 persen.
Tertinggal di putaran awal memaksa politikus senior berusia 80 tahun itu bekerja ekstra keras selama masa kampanye putaran kedua yang hanya berdurasi tiga pekan. Tokoh veteran Partai Buruh (PT) ini mengerahkan basis pendukung akar rumput secara masif, termasuk mengoptimalkan kampanye digital melalui saluran WhatsApp "Lula's Army" yang memiliki 8,5 juta pelanggan.
Kemenangan ini resmi mengantar Lula ke masa jabatan keempatnya sebagai Presiden Brasil (non-konsekutif), setelah sebelumnya pernah memimpin raksasa Amerika Latin tersebut dalam dua periode (2003-2010) dan kembali terpilih pada 2023.
Duel antara Lula dan Flavio, yang merupakan senator sayap kanan sekaligus putra dari mantan Presiden Jair Bolsonaro, berlangsung sengit hingga detik-detik akhir penghitungan suara.
Pada awal rekapitulasi, Flavio sempat memegang keunggulan tipis sebelum akhirnya perlahan disusul seiring masuknya suara dari berbagai daerah basis dukungan, di mana wilayah utara Brasil secara konsisten menyokong Lula dan wilayah selatan banyak melabuhkan suara untuk Flavio. Proses pemungutan suara di lapangan juga sempat diwarnai kendala teknis hingga Mahkamah Agung Brasil memutuskan perpanjangan waktu pencoblosan selama dua jam akibat laporan keterlambatan transportasi dan kendala bus menuju tempat pemungutan suara (TPS), yang membuat proses rekapitulasi awal sempat tertunda sejenak.
Sebagai negara dengan populasi dan ekonomi terbesar di Amerika Latin, hasil pemilihan umum Brasil kali ini membawa implikasi besar bagi peta politik regional. Kemenangan Lula memperkuat poros pemimpin berhaluan kiri-tengah di kawasan tersebut bersama Meksiko, sementara kemenangan kubu lawan sebelumnya diprediksi bakal mendekatkan Brasil ke Washington mengingat kedekatan kubu Bolsonaro dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menanggapi kontestasi ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya memantau ketat perkembangan pemilu di Brasil, namun memilih untuk tidak memberikan dukungan terbuka kepada salah satu kandidat.
Bagi Lula, mandat baru ini menjadi batu loncatan untuk melanjutkan agenda pemerintahannya di tengah polarisasi politik yang tajam serta tantangan kedaulatan negara di bawah tekanan eksternal. Dengan keunggulan sekitar 3,5 poin persentase, Lula sukses membuktikan ketangguhannya dalam membalikkan situasi kritis demi memimpin kembali Brasil untuk lima tahun ke depan.
BERITA TERKAIT: