Kasus tersebut memunculkan sorotan terhadap pengelolaan bantuan kemanusiaan dan dana yang diperuntukkan bagi warga Sahrawi yang hidup dalam kondisi sulit dan serba terbatas.
Mengutip laporan yang diterima redaksi Rabu, 23 September 2026, Perusahaan Infravest beroperasi di kamp Tindouf sejak 2022 di bawah arahan Sallamou Abba Ali dan dituding terlibat dalam sejumlah persoalan keuangan.
Tuduhan yang muncul mencakup pengalihan bantuan internasional, pengayaan pribadi, hingga dugaan penipuan keuangan dalam skala besar.
Warga, pedagang, dan koperasi lokal di kamp “Rabouni” serta “Chahid El Hafed” dilaporkan menuntut pengembalian dana setelah Infravest mengalami keruntuhan.
Nilai dana yang dipersoalkan diperkirakan mencapai sekitar 886 miliar dinar Aljazair atau sekitar 6,6 juta dolar AS.
Infravest disebut membangun kepercayaan melalui sponsor kegiatan budaya dan sejumlah proyek konstruksi sebelum diduga menjalankan skema investasi menyerupai Ponzi. Skema tersebut disebut menyerap tabungan keluarga Sahrawi yang berada dalam kondisi rentan.
Muncul pula pertanyaan mengenai bagaimana perusahaan dapat beroperasi selama beberapa tahun di lingkungan kamp yang tertutup dan termiliterisasi.
Dugaan keterlibatan sejumlah tokoh senior dalam struktur Polisario juga turut mencuat. Namun, tuduhan tersebut masih membutuhkan bukti independen dan penyelidikan lebih lanjut sebelum tanggung jawab pihak-pihak tertentu dapat ditetapkan.
Situasi ini mendorong seruan kepada komunitas internasional, Uni Eropa, dan negara-negara donor untuk memperkuat pengawasan bantuan.
Langkah yang diusulkan antara lain verifikasi penerima manfaat secara kredibel, audit independen terhadap distribusi bantuan, serta peningkatan akuntabilitas atas penggunaan dana publik dan amal.
BERITA TERKAIT: