Pada Senin (15/11), Ngati Toa atau suku yang diakui sebagai penjaga budaya haka Ka Mate, membuat sebuah pernyataan perihal aksi protes terhadap pembatasan sosial dan kebijakan vaksin.
"Ngati Toa mengutuk penggunaan haka Ka Mate untuk mendorong dan mempromosikan pesan vaksinasi anti-Covid-19," kata pernyataan tersebut, seperti dikutip
AFP.
“Kami mendesak agar pengunjuk rasa segera berhenti menggunakan taonga (harta budaya) kami," tambah mereka.
Ka Mate merupakan salah satu ritual yang paling terkenal dari ritual lainnya milik suku Maori. Ritual ini kerap dimainkan sebelum pertandingan rugby selama lebih dari satu abad, serta ada pada acara pernikahan dan pemakaman.
Ka Mate sendiri situal dengan menghentakkan kaki dan memutar mata yang disusun oleh kepala prajurit Te Rauparaha sekitar tahun 1820 untuk merayakan pelariannya dari partai perang pengejar suku saingan.
Pada 2014, parlemen Selandia Baru mengesahkan UU yang berisi Ngati Toa sebagai penjaga ritual. Namun tidak ada hukuman yang dijelaskan jika ritual disalahgunakan.
Kepala Ngati Toa, Helmut Modlik menyebut penggunaan Ka Mate dalam aksi unjuk rasa anti-vaksin dilandaskan pada kepentingan pribadi, dan bukan suku.
“Banyak tupuna (nenek moyang) kami kehilangan nyawa dalam pandemi sebelumnya dan kami sangat menderita,†ujarnya.
“Kami sangat yakin bahwa vaksin Covid-19 adalah perlindungan terbaik yang kami miliki, dan kami berkomitmen untuk mendukung whanau (keluarga) kami untuk divaksinasi sesegera mungkin," tambah dia.
Banyak dari mereka yang melakukan Ka Mate dalam demonstrasi adalah orang Maori yang masih muda. Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan pihaknya berusaha untuk meluruskan disinformasi yang ada.
BERITA TERKAIT: