Langkah tersebut disepakati kedua belah pihak pada Minggu (17/11).
Latihan itu sendiri dikenal dengan nama Combined Flying Training Event. Latihan tersebut akan mensimulasikan skenario pertempuran udara yang melibatkan sejumlah pesawat tempur baik dari Amerika Serikat maupun Korea Selatan.
Beberapa jam setelah pengumuman penundaan latihan militer gabungan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menambahkan catatan urgensi dengan membuat cuitan berisi pesan langsung kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
"Anda (Kim) harus bertindak cepat, menyelesaikan transaksi," kata Trump. Dia bahkan mengisyaratkan pertemuan lebih lanjut dengan Kim.
"Sampai jumpa lagi!" tambahnya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper mengatakan bahwa militer Amerika Serikat dan Korea Selatan akan tetap berada dalam kondisi siaga tinggi. Dia membantah bahwa keputusan untuk menunda latihan adalah konsesi bagi Korea Utara.
"Saya tidak melihat ini sebagai konsesi. Saya melihat ini sebagai upaya itikad baik untuk memungkinkan perdamaian," kata Esper ketika dia mengumumkan keputusan bersama dengan rekan Korea Selatan Jeong Kyeong-doo di Bangkok, tempat para kepala pertahanan Asia berkumpul untuk mengadakan pembicaraan.
"Saya pikir menciptakan lebih banyak ruang bagi diplomat kami untuk mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi semenanjung sangat penting," sambungnya seperti dimuat
Reuters.